Duka Tak Bertepi 11
Begitu hingga di rumah, Gatot tak menunggu lebih lama. Aisyah juga membantu suaminya mengosongkan kamar yang akan digali. Sesekali Galang dan Gilang mengganggu. Gatot mulai mengayunkan cangkul. Semakin lama semakin dalam namun belum ada apa pun yang terlihat. Gatot berhenti sejenak dan memberi kesempatan kepada Aisyah untuk menyeka keringatnya. Siang mulai beranjak menuju sore. Setelah menggali sedalam kira-kira lima meter, barulah Gatot mencicipi cangkulnya membentur sesuatu.
“Kamu dengar itu, Aisyah?”
“Iya, Mas. Sepertinya besi beradu. Dentingannya keras sekali.”
“Lihat, Aisyah. Bantu saya membersihkan tanah-tanah ini.”
“Iya, Mas.”
Aisyah mau tak mau ikut belepotan tanah. Akhirnya konkret apa yang mereka temukan. Sebuah peti besi berukuran sedang. Gatot dan Aisyah bahu-membahu mengangkat peti yang tidak mengecewakan berat itu. Berhasil. Semakin terperinci bentuk dan rupa peti itu. Berkarat di beberapa bagian. Ada gembok yang juga berkarat. Gatot mengambil gergaji dan memotong gembok itu.
“Kira-kira apa isinya, Aisyah?”
“Mana aku tahu, Mas. Makanya dibuka saja.”
Gatot agak ragu. Tapi rasa ingin tahu membuatnya segera membuka peti itu. Begitu peti terbuka dan terlihat apa isi yang tersimpan di dalamnya Gatot dan Aisyah saling pandang. Sesaat tidak ada yang bisa mereka katakan. Mereka juga belum berani menyentuh apalagi mengambil satu pun barang di dalam peti.
“Harta karun siapa ini, Mas?”
“Ada-ada saja kamu. Ini bukan harta karun.”
“Lalu harta apa, Mas? Mas Gatot lihat sendiri perhiasan-perhiasan emas dan perak itu.”
“Mustahil keluargaku punya harta sebanyak ini, Aisyah.”
“Kuambil tas kulit ini saja ya, Mas?”
“Ambillah. Sepertinya ada surat-surat yang tersimpan di dalam tas itu.”
Aisyah mengambil sebuah tas kulit yang agak lapuk. Cukup sulit membuka tas alasannya yaitu resletingnya macet. Setelah mencoba dengan hati-hati hasilnya tas kulit berhasil dibuka. Aisyah mengeluarkan semua isi dari dalam tas. Berupa dokumen-dokumen yang sebagian besar tulisannya tak bisa lagi dibaca. Buram.
“Mas, tampaknya ini sebuah album foto.”
“Kamu benar, Aisyah. Coba kita lihat foto-fotonya.”
Ada sepuluh foto yang tedapat di album itu. Tapi tak ada satu pun yang berkaitan dengan dirinya. Gatot semakin diliputi tanda tanya. Ada foto sepasang suami istri. Ada foto dua bayi. Dan sisanya foto-foto keadaan kompleks di masa lalu.
“Foto siapa ini ya, Mas?”
“Entahlah, Aisyah. Yang niscaya bukan ayah ibuku. Bukan juga diriku.”
“Bayi-bayi di foto ini kembar, Mas.”
“Sayang sekali gambarnya rusak ya, Aisyah. Kita tidak bisa terperinci melihat.”
“Iya, Mas. Nah, ini ibarat fotokopi KTP.”
“Hmm…” Gatot menggumam. “Siapa Marina? Siapa Waluyo?”
“Mungkin sanak saudaramu, Mas.”
“Tidak, Aisyah. Sejak dilahirkan hingga setua ini kami tidak punya sanak saudara.”
“Kita telusuri sepulang liburan saja, Mas. Sekarang kita pikirkan harta karun itu.”
“Kita harus minta pendapat Bapak. Aisyah, sebaiknya kita simpan saja semuanya. Ayo bantu saya menggotong peti ini ke gudang.”
“Aku takut masuk gudang, Mas.”
“Kenapa, Aisyah? Apa alasannya yaitu gudang itu bekas kamar Pak Camat bunuh diri?”
Aisyah mengangguk. Tapi hasilnya mau juga membantu Gatot mengangkat inovasi mereka ke gudang. Selama tiga tahun menempati rumah ini Aisyah tidak pernah sekalipun berani memasuki gudang. Tempat itu yaitu lokasi Pak Camat bunuh diri. Tempat itu yaitu lokasi Murti mengalami siksaan lahir batin. Bahkan di gudang masih tersimpan tali yang di gunakan Pak Camat gantung diri. Makanya mereka tidak mau berlama-lama di dalam gudang.
Setelah meletakkan peti, mereka pribadi keluar dan menutup kembali pintu gudang rapat-rapat. Gatot masih ingin tau dengan semua penemuannya. Tapi alasannya yaitu ada hal lebih penting untuk dipikirkan maka dirinya mengesampingkan dulu rasa ingin tau itu. Yang harus diutamakan kini yaitu Aisyah dan kedua balitanya.
***
Miranda mengawali rutinitas di profesi barunya sebagai sutradara dengan menciptakan sebuah film pendek. Pemainnya ia pilih sendiri. Ceritanya juga ia tulis sendiri. Sementara peralatan pendukung dan tenaga tenaga hebat dibantu oleh rumah produksi milik Safira dan suaminya. Kemarin seharian penuh ia membuka audisi mencari bibit-bibit muda yang punya potensi menjadi selebriti. Ia rela mengucurkan dana pribadi. Karena ini gres awal dirinya merasa masuk akal kalau belum ada pihak-pihak yang berani menjadi sponsor. Proyek ini benar-benar murni miliknya pribadi.
“Kamu yakin dengan anak-anak muda itu, Miranda?”
“Aku yakin mereka bisa, Mbak. Bukankah untuk memulai sesuatu kita harus berani mengambil risiko?”
“Kamu benar, Miranda. Termasuk dalam kehidupan konkret kita juga harus berani mengambil risiko.”
“Mbak Fira punya problem pribadi? Mungkin kita bisa saling berbagi, Mbak.”
“Sejak kemarin sore hingga detik ini Angga tidak pulang ke rumah. Suamiku mulai berubah, Nda.”
“Mas Angga orang sibuk, Mbak. Bisa jadi ia pergi ke luar kota dan lupa memberitahu Mbak Fira.”
“Lima tahun kami berumah tangga, Nda. Tapi belum pernah Angga bertingkah seaneh ini.”
“Mbak Fira meragukan Mas Angga?”
“Kira-kira begitu. Kamu belum pernah berumah tangga, Miranda. Jadi kau belum tahu ibarat apa rasanya menjadi istri. Wanita bersuami selalu dibayangi ketakutan. Wanita berumah tangga senantiasa dihantui kekhawatiran.”
“Mbak Fira yakin dan percaya saja Mas Angga yaitu suami yang baik,”
“Angga memang suami yang baik, tapi saya mulai meragukan kesetiaannya.”
Miranda terdiam. Keluhan Safira mengingatkannya pada jaman lalu. Salah kalau Safira menyangka dirinya belum pernah berumah tangga. Keliru bila Safira bilang dirinya belum tahu ibarat apa rasanya menjadi seorang istri. Itulah yang tidak diketahui orang perihal dirinya. Betapa ia telah mengalami semua itu. Jatuh bangun dalam mempertahankan rumah tangga. Hitam putih mewarnai kehidupan berkeluarga. Bukan hanya sekedar ketakutan dan kekhawatiran yang pernah dialaminya. Tetapi kenyataan tragis sudah pula ia jalani.
Jika Safira mulai khawatir suaminya selingkuh, ia sudah mencicipi sakitnya hati seorang istri yang suaminya selingkuh. Jika Safira mulai meragukan kesetiaan suaminya, ia sudah membuktikan hidup bersama suami yang tak setia. Safira tidak tahu. Mayoritas penggemarnya juga tidak tahu. Teringat hal itu ia kembali diingatkan pada sesuatu.
“Mbak Fira, kurasa cukup untuk syuting siang ini. Kita lanjutkan nanti malam.”
“Baiklah, Miranda. Aku akan menyuruh mereka istirahat.”
“Aku harus pergi, Mbak.”
“Pergilah. Tapi kembali ke sini sore ya,”
Miranda segera pergi menuju parkiran di mana Bimo setia menunggu. Intensitas kebersamaan yang semakin meningkat seiring kualitas perasaan yang makin melekat. Miranda menyadari Bimo bukan lagi sebatas sopir baginya. Lebih dari itu Bimo yaitu mimpi. Berdua dengan Bimo yaitu saat-saat yang menggelorakan naluri. Tapi belum ada niat menuruti kata hati. Miranda masih menguji sejauh mana kebenaran perasaannya sendiri.
“Miranda, perempuan itu menelepon saya lagi. Dia menurunkan tawarannya jadi seratus juta.”
“Jangan dituruti, Mas. Seratus juta bukan jumlah yang sedikit.”
“Tapi saya sangat ingin tahu apa yang ia tahu. Dia tahu keberadaan lelaki yang besar kemungkinan yaitu kembaranku.”
“Pernahkah Mas Bimo memikirkan perihal kita?”
“Tentang kita? Apa maksudmu?”
“Kita bukan balita, Mas. Apa maksudku Mas Bimo niscaya tahu.”
“Miranda, jangan libatkan perasaan apapun dalam kebersamaan kita ya. Aku hanya sopirmu. Ingat itu, Miranda.”
“Awalnya Mas Bimo memang sopirku. Tapi belakangan ini Mas Bimo juga mengendalikan suasana hatiku.”
“Jangan terbawa sinetron-sinetron yang kau bintangi, Miranda.”
“Ini bukan sinetron, Mas. Ini konkret dan bisa dipertanggungjawabkan dengan fakta.”
“Ada-ada saja kamu. Bagiku lebih baik kita ibarat ini. Ke mana tujuanmu, Miranda?”
“Ke hatimu, Mas. Itulah tujuanku.”
“Serius, Miranda. Hatiku bukan daerah yang baik untuk disinggahi.”
“Hmm, Mas Bimo kan yang ketularan lebay ala sinetron?”
Tawa dua insan yang gres saja bertukar kata menyebarkan canda. Miranda berusaha mengarahkan supaya pembicaraan serius tapi Bimo menciptakan dialog terkesan gombal. Basa busuk belaka.
“Kira-kira di mana Minah sembunyi ya, Mas?”
“Kita bukan intel. Tapi saya yakin ia ada di sekitar kita. Dia mengamati gerak-gerik kita.”
“Aku takut ia benar-benar membongkar belakang layar terbesarku, Mas.”
“Memangnya apa rahasiamu?”
“Mas Bimo benar-benar ingin tahu rahasiaku?”
“Jika kau tidak keberatan.”
“Mas Bimo mau bersumpah tidak akan membocorkan belakang layar ini pada siapapun?”
“Aku bersumpah, Miranda. Ceritakan saja,”
Bimo bisa dipercaya. Itu diyakini oleh Miranda. Perjalanan berakhir di salah satu restoran bintang lima yang menjadi langganan para pesohor ibukota. Restoran yang menyediakan akomodasi ruang VIP. Ruangan yang sangat terjaga tingkat privasinya. Di ruangan itulah Miranda menciptakan legalisasi di hadapan Bimo. Hanya ada mereka berdua ditemani alunan lagu nostalgia lama yang mempermudah Miranda menceritakan segala masa lalunya.
“Mas Bimo siap mendengarkan?”
“Aku selalu siap untukmu, Miranda.”
Miranda menarik napas dan wajah murung sekilas melintas. Dipandanginya mata Bimo yang juga sedang memandang dirinya. Mata yang menyiratkan kejujuran. Mata yang bisa dipercaya bisa menyimpan rahasia. Mata kelam setajam elang yang mulai ia suka.
“Jangan alihkan pandangan Mas Bimo dariku.”
Mungkin Bimo tidak pernah menyangka. Mungkin Bimo menganggap artis jelita dihadapannya sudah gila. Tapi Miranda benar-benar melakukannya disertai setetes demi setetes air mata. Miranda membuka jati diri, jasmani dan rohani, lahir dan batin, tanpa satu pun yang tersembunyi. Di bawah bayang-bayang masa kemudian Miranda memerankan dirinya sebagai Murti.
“Miranda,”
“Lupakan Miranda. Yang ada dihadapan Mas Bimo dikala ini yaitu Murti.”
“Inikah rahasiamu? Siapa bekerjsama dirimu?”
“Aku perempuan paling kotor, Mas. Aku perempuan paling jalang di dunia ini,” terbata-bata bunyi Miranda bercampur gejolak emosi yang meredupkan hari. “Miranda hanya topeng, Mas.”
“Berapa umurmu, Miranda?”
“Sama denganmu, Mas. Inilah diriku yang sesungguhnya. Janda yang tak punya harga.”
Miranda membuka satu persatu pakaian yang menutupi tubuhnya. Ia telanjang sebagaimana penderitaan menelanjanginya di masa lalu. Ia ingin Bimo melihat bekas-bekas penderitaan dan kesengsaraan yang dialaminya dahulu.
Masih dengan kesedihan yang mendalam ia buka kembali halaman demi halaman kehidupan hitam. Tidak ada halaman yang dilewati. Ia ceritakan pada Bimo bahwa dirinya berjulukan orisinil Murti, bekas istri seorang camat, bekas guru madrasah, bekas pembunuh yang tega menyebabkan suami gantung diri. Ia kisahkan setiap detik waktu yang dijalani di kompleks. Sampai lebih dua jam dongeng itu mengalir tiada putus.
“Itulah rahasiaku, Mas.”
“Tak kusangka perjalanan hidupmu lebih dari yang diduga banyak orang. Pengalaman hidupmu lebih lengkap dari pengalaman siapapun, Miranda.”
“Dari situ saya mengambil pelajaran, Mas. Dari masa kemudian itu saya berjuang berdiri menyongsong hari demi hari.”
“Dan kau berhasil bangkit. Ketangguhanmu sudah teruji, Miranda.”
“Keadaan yang memaksaku untuk menjadi tangguh, Mas.”
“Miranda,”
Tidak ada lagi belakang layar antara Miranda dan Bimo. Dua insan yang secara sadar meleburkan diri dalam pelukan. Bimo ingin mengelak namun naluri terlanjur bergolak. Masih belum sadar dengan keadaan, ia hanya bisa tertegun dan gugup melihat badan Miranda yang polos alasannya yaitu kainnya sudah terlepas.
Akan halnya Miranda, sekali lagi tak bisa mengalahkan tangguhnya nafsu seorang pria. Muram berkembang menjadi hitam. Sesaat mereka hanya saling menatap. Bimo terlihat menikmati pemandangan indah di depannya. Tubuh Miranda yang semampai terpampang terperinci di hadapan mata.
“Miranda, ijinkan saya untuk...” Bimo menggigil, tak kuasa menatap aura badan Miranda yang menguapkan hawa hangat di sekitar badan mulusnya.
"Lakukan, Mas, kalau kau memang ingin,"
Miranda memeluk. Badannya yang hangat menjalari badan dan menggoyahkan dogma Bimo. Pipinya yang tirus bersandar di dada bidang laki-laki itu sambil dengan perlahan mengecup puting Bimo yang terbuka sebagian.
Sungguh lihai ia merayu, badan Bimo jadi bergetar. Dia tak bisa untuk menolak. Mereka segera larut dalam suasana, meskipun Bimo masih mencoba sedikit menahan diri. Mereka hanya bercumbu dan saling menghangatkan satu sama lain. Sesekali payudara Miranda bergesekan dengan batang penis Bimo alasannya yaitu Miranda menyandarkan tubuhnya erat-erat.
“Bolehkah kita ibarat ini, Miranda?”
“Tentu saja. Siapa yang bisa melarang?”
Dengan halus Miranda menarik kepala Bimo ke arah dua bukit kenyalnya yang mendongak menantang. Bagaikan bayi yang menerima mainan baru, Bimo pun larut mengulum kedua bukit mengkal itu tanpa bertanya-tanya lagi. Putingnya yang berwarna merah jambu ia hisap kuat-kuat hingga semakin memerah dam mengeras, menandakan birahi Miranda sudah kian memuncak.
Dengan gerakan mengalir, tangan Bimo meraba kulit mulus Miranda dari atas pundak hingga ke labia mayoranya yang terasa hangat. Dia menusuknya, mencicipi kehangatannya, hingga jemarinya jadi belepotan terkena percikan air birahi yang tersembur dari selangkangan Miranda.
“Ahh... Mas!”
Miranda merintih, ia mendongak menatap. Matanya terlihat teduh dan penuh pengharapan. Rambut Miranda yang lurus halus terurai membawa aroma tubuhnya ke depan hidung Bimo. Dengan lembut Bimo menyibakkannya sambil menghalau tetesan keringat yang mulai muncul di pipi Miranda.
"Aku mulai kedinginan, Mas. Cepat hangatkan tubuhku!!"
“Iya, pasti,"
Bimo menarik Miranda ke pelukannya yang hangat. Mereka berangkulan dan bergulingan di lantai rumah makan yang berlapis karpet lembut.
"Lepas, Mas. Kamu tak perlu baju ini. Aku ingin memelukmu dengan badan sama-sama telanjang.” Miranda berkata manja.
Perlahan Bimo melepas baju dan celananya hingga jadi sama-sama bugil. Selanjutnya ia pribadi menyumbat lisan Miranda dengan ciuman-ciuman panas sambil membelai halus puting di dadanya yang sintal. Miranda yang sudah semenjak tadi garang balas memeluk pinggang Bimo dengan kakinya. Mereka berangkulan semakin akrab dengan tangan Bimo terus bergerilya di sekujur badan Miranda.
"Nda, biarlah saya yang mencumbumu. Kamu membisu saja, ya."
Tanpa menunggu jawaban, Bimo kemudian menindih dan mengangkangi celah kewanitaan Miranda. Ia gesek-gesekkan tongkatnya yang masih setengah mengeras ke celah sempit itu. Miranda menggenggamnya dan meremasnya halus.
"Belum tegang saja sudah harus dengan dua tangan. Kalau dimasukkan ke punyaku, apa bisa muat ya?"
"Tenang saja, punya kau kan elastis. Yang penting kita pemanasan dulu,"
Miranda tersenyum dan kembali menggosok-gosokkan penis Bimo ke labia mayoranya, tampak ia sangat menikmati aktivitasnya itu. Bimo pun tak tinggal diam, ia meraba dada Miranda yang bundar membusung sambil sesekali menjilati putingnya, kiri dan kanan. Tubuh Miranda juga tak luput ia cumbu. Mulai dari atas hingga ke bawah, tak satu pun bab kulit Miranda yang tak terjamah oleh pengecap kesat Bimo.
“Sudah, mas. Cepat lakukan!” desah Miranda tak tahan.
Namun bukannya menuruti, Bimo malah mencumbu kewanitaa Miranda. Rakus ia mencucup dan menjilatinya hingga Miranda melepas orgasmenya tak lama kemudian. Perempuan itu menggigil memohon supaya cumbuan Bimo dituntaskan pada permainan cinta yang sesungguhnya.
"Please, Mas. Masukkan! Aku sudah tak tahan,"
Miranda menarik batang perkasa Bimo dengan penuh nafsu. Dia juga mengangkat pantatnya lembut, siap menyambut bacokan batang kekar itu. Bimo menggesekkannya terlebih dahulu, gres kemudian menusuk. Namun masih terasa sulit alasannya yaitu saking sempitnya lubang kelamin Miranda.
“Buka lebih lebar, Nda.”
Miranda menuruti, ia mengangkangkan kaki dan bahkan mengangkat kaki kirinya ke pundak Bimo. Dengan posisi tusuk silang, Bimo hasilnya berhasil memasukkan si batang nakal. Miranda nampak meringis sedikit, kesakitan sekaligus juga keenakan.
“Kuteruskan apa tidak?” Bimo menahan sebentar gerakannya, tak hingga hati melihat perubahan wajah Miranda.
“Teruskan, Mas. Tidak apa-apa.”
Perlahan Bimo mulai menarik ulur batang kejantanannya, vagina Miranda terasa sempit sekali. Kesat sekaligus juga sangat menggigit. Kalau dirangkum dalam kata-kata, artinya nikmat sekali. Miranda memejamkan mata, sementara Bimo terus mengayun menuju puncak sambil tak henti-henti meraba-raba bulatan payudara Miranda yang terhentak-hentak lembut.
"Nanti keluarkan di dalam nggak apa-apa. Aku ingin mencicipi terjangan dan denyutan si Bimo kecil. Please, jangan dilepas ya."
“Bagaimana kalau kau hamil?”
“Sekarang bukan masa suburku,”
Bimo mengambil napas dan memeluk erat. Goyangannya menjadi semakin cepat. Kaki Miranda melingkar di pinggang, mereka saling memacu dengan tangan Miranda menggelayut di leher Bimo. Bibir mereka bertemu dan kembali berciuman.
"Oohh.. Mas, saya sudah hampir.. ohh.."
“Kita keluar sama-sama, Nda.”
Setengah berdiri dengan lutut, Bimo merampungkan goyangannya sambil terus meremas-remas payudara Miranda. Kembali ia rasakan hangatnya semburan orgasme dari liang kewanitaan perempuan bagus itu. Selangkangan Miranda jadi berair oleh curahan air birahi dari vaginanya yang harum, bagai mata air yang tak pernah kering, yang senantiasa semerbak mewangi.
"Oh, Mas! Ooh.. sshh.."
"Aahh.. saya juga hampir sampai, Nda."
Lima genjotan kemudian, benih Bimo yang sudah semenjak dua jam yang kemudian ditahan-tahan, hasilnya berhamburan di liang vagina Miranda. Dengan bertubi-tubi Bimo menyembur, merampungkan segala hasratnya. Tersenyum penuh kepuasan, Miranda berusaha menikmati sisa-sisa denyutan itu, hingga hasilnya batang Bimo termangu begitu isinya habis.
"Jangan dicabut dulu, Mas. Biar saja lepas sendiri."
Bimo mengangguk sambil melumat bibir Miranda yang telentang kelelahan. Mereka terus berpelukan hingga keringat keduanya mengering dan napas mereka kembali beraturan. Baru kemudian pulang.
Comments
Post a Comment