Supter Cruentus Divum

Dengan bersujud dan dengan kepala tertunduk, air mataku mengalir perlahan mencoba menahan kepedihan yang muncul seiring terbenamnya mentari ke peraduan. Coba kuingat doa-doa suci yang dulu biasa kuucapkan kala hari menjelang malam. Doa-doa pembawa ketentraman jiwa dari ketakutan yang mengiringi datangnya malam. Karena malam begitu kejam dan penuh rahasia, doa mendatangkan hening dan mengundang para malaikat pelindung menampakan diri mereka di hadapanku. Menghibur diriku dengan kidung-kidung surgawi yang merdu bagai nyanyian bidadari, harum bagai aroma bunga mawar ketika merekah.

Akan tetapi airmata semakin deras mengalir membasahi pipiku. Getaran yang dahsyat kurasakan merangsang butir-butir keringat cuek keluar dari pori-pori kulitku. Begitu tergoncangnya jiwa ini dalam rasa takut yang amat besar sampai airmata dan keringatku bermetamorfosis tetes-tetes darah yang kian usang kian mengental menggantikan aroma wangi mawar dengan basi anyir kematian.

Seperti biasanya, saya kembali gagal mengingat doa-doa suci itu. Keremangan terlanjur membisikkan panggilan iblis dalam diriku. Bau anyir darah segar terlanjur membiusku sampai nyanyian-nyanyian terkutuk itu terdengar bagaikan simfony merdu yang memabukkan dalam telingaku.

Wake up, wake up, it calls me.
Wake up and celebrate the passing of the light.

Semuanya menjadi gelap, dan semuanya mulai tampak berwarna merah. Ketika itu mulai terjadi, sebelum seluruh nuraniku ditelan oleh kejahatan, kuucapkan satu-satunya doa yang masih teringat. Lalu saya pun menyerahkan diri dengan pasrah ke dalam pelukan malam. Kemana pun saya akan dibawa, dan apapun yang berkuasa atas diriku, hasratku, rasa hausku.

Malam yang semakin larut rupanya tidak mengurangi hiruk-pikuk kota ini. Jalan-jalan tampak masih dipenuhi kendaraan yang lalu-lalang bagai binatang malam memancarkan sinar menyilaukan lewat lampu-lampu mereka. Sudah hampir tengah malam dan saya gres saja bergabung di tengah kemudian lintas untuk kembali memuaskan rasa dahaga dan memenuhi panggilanku sebagai mahluk malam.

Sejenak kutatap wajahku lewat beling spion, memastikan penampilan wajahku malam ini. Sepasang mata lingkaran dan tajam, tulang pipi yang tinggi serta bibir merahku terlihat begitu tepat menghiasi wajah indo-persia milikku. Berbeda dengan anggapan banyak insan fana pada umumnya, cermin sanggup memantulkan bayangan mahluk sepertiku. Tersenyum kegelian mengingat anggapan bahwa vampir tidak terlihat lewat cermin alasannya ialah alangkah sulitnya buatku untuk bersolek apabila saya tidak sanggup melihat bayanganku lewat cermin.

"Hm, mahluk penghisap darah sekalipun menghargai penampilan." begitu kalimat yang tercetus di benakku mengingat anggapan konyol itu.

Silaunya lampu kendaraan beroda empat di belakangku mengingatkan bahwa traffic light telah berubah warna hijau yang berarti saya harus segera menjalankan mobilku ini. Kembali menyusuri jalan-jalan ibukota, saya bagaikan seekor serigala yang berjalan mencari domba-domba untuk dimangsa.

Sebenarnya akan lebih praktis buatku apabila saya melakukannya mirip lazimnya diperbuat kebanyakan kaumku. Melayang ringan di kegelapan malam melintasi cahaya rembulan untuk segera menerkam insan lemah yang bernasib sial. Akan tetapi saya kurang suka cara itu, lantaran untuk itu saya harus merubah wujud tepat ini menjadi mahluk malam bersayap yang mengerikan. Amat menyakitkan dan sama sekali tidak indah, pikirku.

Aku ingin selalu berada pada wujud manusiaku. Wujud Famitha yang dikaruniai tubuh semampai lengkap dengan segala lekuk kewanitaan yang banyak didambakan oleh para wanita-wanita fana, apalagi para lelaki mereka. Lucu juga melihat selera insan yang praktis berubah.

Aku masih ingat bahwa beberapa ratus tahun yang kemudian saya selalu merasa rendah diri lantaran ukuran tubuhku yang langsing dan tinggi justru tidak diminati para lelaki. Dulu simbol kecantikan perempuan ialah tubuh yang berisi, pinggul yang lebar serta sifat serba halus yang cenderung lemah terhadap kaum pria. Kini Famitha ialah ratu! dan para lelaki selalu dengan praktis kutaklukkan.

Setidaknya saya tidak khawatir tubuh ini akan berubah lantaran jasad ini akan tetap dalam keabadian. Terlebih lagi saya tidak perlu repot-repot diet mirip para perempuan fana lantaran lemak dan kolestrol tidak lagi menjadi problem buatku. Darah segar ialah sumber kehidupan, darah ialah keabadianku!

Restoran fastfood Amerika yang buka 24 jam itu barada di lokasi yang amat strategis untuk menjaring pembeli. Berada satu gedung dengan sebuah kafe besar, sebuah diskotik dan sebuah kafe populer di Jakarta membuat restoran itu mengkaji tempat rendezvous, makan dan juga ajang mencari pasangan dari insan-insan yang haus akan nafsu jasmani.

Waktu menjelang tengah malam mirip inilah ketika yang tepat buatku untuk dengan praktis menentukan lelaki yang akan 'menikmati' malam denganku. Entah mengapa rasa haus darah ini selalu muncul bersama hasrat kewanitaanku untuk menikmati kepuasan jasmani sesaat yang tidak pernah membosankan itu. Setidaknya itu merupakan salah satu sifat kemanusiaan yang belum hilang dalam diriku.

Lima menit kulalui ditemani segelas orange juice yang sama sekali tidak kusentuh sambil menebar jaring perangkap bagai seekor laba-laba menunggu lalat terperangkap di dalamnya. Tepat di meja yang berhadapan denganku, dua orang laki-laki ekspatriat tampak bercanda mesra dengan dua orang perempuan lokal berpakaian seronok dengan tawa serta kerlingan jalang mereka. Menjual diri demi setetes kenikmatan atau berharap sang ekspatriat jatuh cinta kemudian mengawini mereka kemudian mengajak mereka pergi ke negaranya.

Ada juga seorang perempuan berusia sekitar empat puluhan ditemani laki-laki muda berbadan gempal yang sesekali melirik kepadaku dengan tatapan kolam seorang playboy kelas kakap. Gigolo muda itu sama sekali tidak menarik buatku, lagipula saya tidak ingin mengganggu kesenangan seorang perempuan mapan dengan usia mulai senja untuk menikmati apa yang masih tersisa dalam gairahnya sebelum ditelan monopause yang membosankan.

Berikutnya ialah beberapa orang cukup umur yang duduk tepat di belakangku yang sedang membicarakanku sambil berbisik. Rupanya mereka saling mendorong satu sama lainnya untuk lebih dulu mendekatiku. Kupalingkan wajahku ke arah mereka sambil mengerutkan alis sampai wajah mereka terlihat salah tingkah dan berusaha mengalihkan perhatian.

"Dasar anak kemarin sore." ujarku dalam hati.

Seharusnya mereka bersyukur saya sedang tidak berhasrat dengan 'para pemula', lantaran dengan demikian hidup mereka tidak berakhir secepat itu. Naluriku selalu tahu apabila ada insan di sekitarku yang sedang membicarakan atau memperhatikan diriku sampai saya tiba-tiba merasa tidak nyaman lantaran hawa ruangan itu terasa berubah, dan seketika itu pula saya merasakan kehadiran individu yang berbeda dari kerumunan insan di sekelilingku.

Kulayangkan pandangan menyapu ruangan restoran itu berusaha mencari individu tersebut, namun tidak kutemukan. Baru ketika kualihkan pandangan keluar jendela beling yang megelilingi ruangan itu bagai aquarium ke arah luar, tiba-tiba pandanganku terhenti pada sesosok tubuh yang berdiri tegak dan membisu bagaikan patung di antara formasi kendaraan beroda empat yang parkir di situ.

Tubuh yang mempunyai tinggi di atas rata-rata orang Melayu itu terbalut sweater lengan panjang berwarna hitam tepat memandang ke arah tempatku duduk. Senyum hangat itu terlihat kontras dengan tatapan cuek dan mati di wajahnya. Aku mengenal laki-laki itu! Saking terkejutnya, tanganku bergerak refleks hendak melambaikan tangan namun menyenggol gelas di meja sampai orange juice cuek itu tumpah membasahi tanganku.

"Ups!" segera kukembalikan gelas plastik itu dalam posisi semula. Dan sesudah membersihkan tangan dengan tissue, saya kembali memalingkan wajah ke arah luar, namun sosok serba hitam itu sudah tidak berada di sana.

"Ave mea solis," bunyi yang amat kukenal itu berbisik halus tepat di belakang telingaku.

Kupalingkan wajah dengan cepat dan kini sosok berbaju hitam itu sudah duduk di sampingku.

"Ruffus Valerius!"

Sepasang lengan yang kokoh merangkul tubuhku sampai karam dalam dekapan akrabnya. Terasa hangat buat jiwaku sekalipun pada kenyataannya sedingin mayat.

"Famitha-ku yang manis," suaranya menembus ke relung jiwaku yang paling dalam mengisi kesepian yang menderaku selama ini.

Sudah cukup usang saya tidak bertemu dengan sesama mahluk malam sampai perasaan bersahabat serta-merta membuatku meneteskan air mata.

"Ya, saya juga merasakannya," ucapnya berbisik di telingaku. "Kau kesepian bagai sang rembulan sendiri di kotamu ini."

"Aku senang kau mengunjungiku mitra lama, menjadi vampir seorang diri dikelilingi jutaan insan terkadang menakutkan. Aku merasa lebih takut pada mereka daripada sebaliknya," ucapku sambil menyeka airmata cuek di pipi yang pucat ini.

"Bukan vampir, manisku, tampaknya kau justru terbiasa menggunakan istilah insan itu. Bachae! kau-aku dan semua bawah umur Bachuss ialah Bachae. Jangan biarkan sebutan rendah itu menempel dalam benakmu."

"Hmm.. kau masih tetap mirip dulu, kau tetap Ruffus sang guru yang senantiasa menunjukkan pencerahan buat bawah umur kegelapan," kataku tersenyum.

Bachae ialah cara kami, kaum abadi-mahluk malam pemuja darah menyebut diri kami. Bachuss ialah bapa sekaligus ibunda yang melahirkan kami dalam keabadian. Vampir ialah sebutan insan fana buat mahluk macam kami dan Ruffus tidak pernah suka dengan sebutan itu.

"Darah ialah kehidupan kita, ialah takdir dan bukan kekejian apabila kita terpaksa mencicipinya dari manusia. Bukankah takdir yang menentukan semuanya, mirip takdir pula yang membawa saya dan kau ke dalam perjalanan panjang dalam kegelapan ini?" kata-kata Ruffus itu amat bersahabat bagiku lantaran itu merupakan pecahan dari doa-doa kudus yang kuikrarkan setiap mentari karam di ufuk barat.

Ruffus ialah seorang Nosferatian, vampir/Bachae pertapa yang merupakan bawah umur dari Nosferatu sang guru agung. Mereka hidup mirip biarawan atau pertapa yang sangat anti terhadap kebudayaan manusia. Mereka sama sekali tidak pernah makan dan minum kecuali darah. Itu pun hanya pada bulan purnama dan kebanyakan darah binatang yang mereka minum.

Nosferatian cuma meminum darah seorang insan yang benar-benar terpilih buat dijadikan penerus mereka. Oleh lantaran disiplin ketat itu, kaum Nosferatian mempunyai kemampuan supranatural yang melebihi kemampuan yang dimiliki seorang Lestatian sepertiku. Namun saya merasa lebih beruntung menjadi seorang Lestatian. 

Lestatian ialah vampir/Bachae haus darah yang mempunyai lebih banyak hasrat manusiawi. Kami amat senang berafiliasi dan hidup bersama manusia. Lebih dari itu kami masih menikmati kepuasan cinta dan seks sebagaimana manusia. Oleh lantaran bapa kami Lestat Ventrue, ialah sang pecinta sejati. Kemiripan kaum Lestatian dan Nosferatian ialah sama-sama penyendiri. Lebih suka hidup terpisah, baik sebagai bachae pertapa maupun bachae pemangsa.

"Ehm.. saya tahu yang kaupikirkan manisku, memang betul kami mirip fosil yang mengarungi keabadian dalam kebosanan tanpa kenikmatan mirip kaum Lestatian sepertimu. Tapi setidaknya saya amat menyayangimu, sama mirip Nosferatu menunjukkan kasih abadinya pada Lestat Ventrue. Kasih seorang bapa pada anaknya yang dicintai dan bukan pada si pendurhaka Valkuss yang tega menghabisi ayahnya lantaran rayuan Drusila, ibunda para jalang," mimik wajah Ruffus bermetamorfosis serius tatkala mengucapkan itu.

"Sudahlah Ruffus, kau tahu saya percaya padamu dan akan selalu menyayangimu. Aku sama sekali tidak pernah menganggapmu mirip itu. Aku cuma kagum akan keteguhanmu, kalian kaum Nosferatian bagitu mengabdi pada Bachuss dan itulah mengapa saya selalu merasa tentram bila kau ada di sampingku," ucapku dengan tulus.

"Sudah lebih dari seratus purnama semenjak terakhir kali kita berjumpa, kau tentu mengerti bila saya ingin tau ingin segera tahu maksud kehadiranmu di khatulistiwa ini," Pria Kaukasia berparas tenang itu kembali tersenyum sambil menggenggam erat tanganku kemudian berkata dengan hati-hati,

"Mea Solis, maafkan apabila saya mungkin terdengar mirip terlalu campur tangan dalam perjalananmu menempuh waktu dan kegelapan, namun lupakah kau bahwa sudah hampir empat ratus tahun semenjak kau menjadi seorang Bachae? tidakkah kau berhasrat menggunakan hak istimewa yang kau miliki untuk membagi keabadian dan meneruskan keturunan suci sang Lestat, keturunan suci para penuai anggur, penerus warisan sang Bachuss?"

Ucapan Ruffus itu membuatku terpojok dan serba salah. Aku tahu maksud ucapannya itu, dan hal itu terang membuatku sukar mencari jawabannya. Sebagai seorang Bachae, saya seharusnya bisa dan memang sudah menjadi pecahan dari naluriku untuk membagi kesunyian dan keabadian dengan seseorang insan fana yang kucintai.

Dalam kurun waktu empat ratus tahun memang telah beberapa kali saya berniat melaksanakan kiprah suci itu. Namun entah kenapa selalu saja ada bunyi dalam hatiku yang membuatku tidak tega melakukannya. Justru semakin saya menyayangi seseorang, semakin sukar buatku untuk menularkan kutukan ini. Teringat Romeo, laki-laki malang yang pernah amat kucintai yang dalam waktu singkat telah direnggut oleh kematian dariku. Kubiarkan beliau memenuhi takdirnya sebagai insan fana lantaran ketidak-mampuanku untuk menjadikannya sama dengan diriku.

Sebagai seorang Nosferatian yang semenjak awal menjadi pembimbingku, Ruffus tentunya punya hak untuk mempertanyakan hal itu. Entah mengapa semua kenangan manis dan cinta yang pernah kualami selama beratus tahun mendadak kembali menyelimuti seluruh jiwa ini, membawa kesedihan dan membuat lidahku kelu terkunci oleh kebisuan lantaran saya tidak punya tanggapan atas pertanyaan Ruffus. 

Ruffus terang menangkap getaran dalam hatiku. Ganggaman tangannya mekin erat dan kharismanya membuatku kembali menatap matanya yang hening itu. "Devia mea solis," ucapnya perlahan. "Via aeternum et devia inretto," bisiknya lagi dengan getaran bunyi yang terasa membungkus jiwa dinginku ini dengan kehangatan.

'Kesepian' katanya tadi yang kemudian mengingatkanku bahwa 'jalan keabadian berarti terperangkap dalam kesepian dan keterasingan (via aeternum et devia inretto).

"Engkau niscaya merasakannya dan itulah kodrat kita. Memberikannya pada orang yang kita cintai memang bukan jalan keluar dari semua itu, namun membuatmu merasa memiliki. Membuatmu merasa mempunyai sesuatu yang berharga untuk menempuh perjalananmu dalam keabadian nan gelap ini. Manusia fana berjalan dalam via dolorosa dan kita kaum Bachae mempunyai kehormatan menjalaninya selama-lamanya. Belahan jiwa abadi niscaya membuatmu semakin dekat pada hakikat itu. Menjadi Bachae bukan suatu kesalahan, telebih dianggap dosa lantaran itulah jalan-mu, itulah jalanku. Berikanlah kehormatan itu pada insan fana pilihanmu lantaran via dolorosa (jalan sengsara) sesungguhnya penuh kehormatan dan mulia. Dan itulah jalan kita bawah umur Bachuss - sang pokok anggur yang sejati."

Maka aku, Famitha sang pemburu, ratu malam yang penuh pesona tiba-tiba merasa kecil dan rapuh. Tiba-tiba saya merasa takut dikelilingi banyak insan yang seharusnya menjadi buruanku. Memang betul, menjadi seorang predator di antara kerumunan mangsa amat menakutkan. Dan memang saya merasa bahwa rasa 'takut'-ku pada insan gotong royong lebih besar dari rasa takut mereka kepadaku. Kubiarkan diriku karam dalam kesedihan lantaran tiba-tiba saya mirip kehilangan seleraku akan darah insan malam itu.

Ruffus membiarkanku karam dalam pelukannya mirip seekor anak domba terlelap dalam pelukan gembalanya. Yang terang malam itu insan berpesta lantaran pemangsa mereka sedang dalam kesedihan dan kehilangan dahaganya.

Sorrounded by so many, Yet still I am alone. Time has washed away my face, And all that's left is stone So far am I from heaven, A prisoner of my own coffin. Does anyone remember me? Does no one know my worth?

***

Dua purnama telah berlalu semenjak kunjungan terakhir Ruffus Valerius, namun entah mengapa saya masih merasakan kehadirannya. Mungkin lantaran perasaan bersalah dalam diri ini yang membuat setiap ucapannya senantiasa terngiang di telingaku tiap kali malam menjelang dan perburuanku dimulai. Belum juga kutemukan tanggapan atas pertanyaannya dan belum juga kumulai mencari tanggapan itu.

Malam ini Famitha kembali melaksanakan perburuan. Darah segar ialah satu-satunya yang terpikir olehku ketika saya kembali berada di antara calon-calon mangsaku. Terasa bagai dejavu ketika saya duduk di bangku dan meja yang sama di tempat yang sama ketika dua purnama kemudian bertemu dengan Ruffus. Bahkan saya gres sadar kalau dandananku malam ini tepat sama dengan yang kukenakan ketika Ruffus terakhir kali mengunjungiku. Tanpa sadar saya melemparkan pandanganku ke arah tempat parkir di mana Ruffus terlihat ketika itu. Kali ini tanganku menggenggam erat gelas juice di atas meja supaya tidak tumpah mirip ketika itu. Naluriku tidak menangkap kehadirannya walaupun hatiku merasakannya dekat sekali.

"Ah, saya mungkin terlalu berharap atau terlalu merasa bersalah."

Restoran fast food yang buka 24 jam ini memang tidak pernah sepi pengunjung. Mungkin telah puluhan kali saya berada di sini dan tampaknya tempat ini telah menjadi ajang perburuanku. Mudah dan menyenangkan buatku lantaran di sini saya dengan bebas menentukan laki-laki yang memenuhi impian hasratku.

Malam ini juga tidak berbeda dengan malam-malam sebelumnya. Para insan pecandu nightlife kemudian lalang dengan dandanan beraneka macam coba tampil semenarik mungkin. Beberapa di antaranya bahkan sudah saya hafal betul dan mungkin sebagian dari mereka juga sudah hafal denganku. Famitha yang manis dan selalu mempesona. Belum satu pun laki-laki yang cukup menarik hati seleraku malam ini, malah sebaliknya perhatianku justru terpusat pada seorang gadis yang semenjak setengah jam tadi tampak duduk dengan gelisah di salah satu pojok ruangan.

Dia sendirian dan manis oleh paras polosnya yang dilapisi make-up. Jelas bukan kecantikannya yang membuatku tertarik akan tetapi sorot matanya. Sorot mata itu terang menampakkan rasa takut, cemas dan gelisah. Sesekali beliau melemparkan pandangannya ke sekeliling dengan penuh kecemasan. Dia mirip menantikan seseorang atau mungkin malah menghindari seseorang.

Makin usang kuperhatikan, saya merasa bahwa beliau juga sesekali menatapku. Tiap kali pandangan kami bertemu, beliau segera memalingkan wajahnya. Tiba-tiba saya merasa kenyamananku terusik. Dia juga sedang memperhatikanku! Kunyalakan sebatang rokok untuk mengusir perasaan risih dan coba terlihat se-manusiawi mungkin.

Lima menit kemudian gadis itu tiba-tiba berdiri dengan perilaku amat gugup ketika tiga orang lelaki berbadan tegap memasuki restoran ini dengan langkah yang pongah. Mereka terlihat saling berbicara satu dengan lainnya tepat di depan pintu masuk. Naluriku terpancing, sanggup kudengar degup jantung gadis itu berpacu cepat dari sini dan bersamaan dengan itu, indra ke-enamku sebagai seorang bachae, membuatku sanggup mendengar apa yang dibicarakan tiga laki-laki itu.

"Ron, kau yakin perempuan pelacur itu ada di sini?"

"Iya saya yakin.. beliau tidak punya pilihan lain lantaran memang beliau tidak punya siapa-siapa di kota ini".

"Perempuan pecandu itu sudah bilang kalau beliau akan kembali lagi, lantaran kalau tidak boss sudah mengancam akan mengadukannya sebagai pembunuh Dedy, pacarnya."

Seorang dari mereka terlihat menunjuk ke arah gadis itu. "Hey, itu dia! Biar saya seret kini juga!"

"Ssst.. tidak usah menggunakan jalan kekerasan. Dia tidak akan lari kemana-mana. Dia kesini memang untuk menyerahkan diri."

Saat itu terdengar bunyi ponsel dan laki-laki yang dipanggil Ron itu menjawab telepon itu. Dengan terang kudengar bunyi yang kurang jelas muncul dari ponsel itu.

"Gimana, sudah ketemu?"

"Sudah boss, Dara memang ada di sini.. sebentar lagi kita akan bawa kesana."

"Ok, saya tunggu. Jangan lama-lama, paksa kalau perlu. Soalnya beliau sudah di booking sama salah satu klien kita."

Ponsel ditutup namun bersamaan dengan itu gadis berjulukan Dara tadi bergegas masuk ke dalam toilet.

Sebelum menutup pintu toilet, gadis malang itu masih sempat menatapku. Tatapannya penuh ketakutan dan kegelisahan, tatapan khas dari mangsa yang sudah terkepung oleh para pemangsanya. Bukan saya pemangsanya kali ini melainkan ketiga laki-laki tadi, dan gadis itu menatapku mirip ingin berkata, 'Tolong aku'.

Ketiga laki-laki itu melangkah tergesa ke arah pintu toilet perempuan di ujung ruangan memburu gadis malang itu.

"Tunggu sekitar lima menit saja, mungkin beliau benar mau ke toilet. Lagipula tidak ada jalan keluar lain dari situ," ucap salah seorang laki-laki itu.

Terjadi pergulatan dalam batin ini menyaksikan drama yang tengah berlangsung tepat di hadapanku.

Ternyata Famitha bukanlah satu-satunya pemburu malam ini dan ternyata ada seorang insan fana yang justru memohon pertolonganku. Rasa haus darahku sejenak lenyap dan digantikan perasaan abnormal yang asing buatku, rasa iba. Rasa kewanitaanku muncul ketika wajah dan tatapan frustasi gadis itu terlintas beliau mataku. Batinku kembali bergolak dan kesadaranku berperang menentukan pilihan. Rupanya malam ini sang rembulan memberiku jalan yang lain. Rupanya malam ini sang pemangsa harus menjadi sang penolong.

Aku berdiri dan bergegas menuju ke toilet di mana gadis tadi berada. Dalam perjalanan, saya sempat bersenggolan dengan salah seorang dari ketiga laki-laki itu. Sorot mata penuh amarah mereka mengikuti setiap ketukan hak sepatuku menuju toilet. Dalam toilet sesosok tubuh ramping terlihat berdiri kaku bagai mayit hidup. Gadis itu tampak linglung lantaran putus asa. Dia tersentak kaget ketika saya membuka pintu namun tatapannya berubah penuh harap melihat kehadiranku di situ. Dia mirip ingin berkata atau meminta tolong padaku namun sesuatu mengganjal lidahnya.

"Jangan takut, saya Famitha," itulah kalimat yang muncul dari mulutku dan seketika hangat darahnya mirip kembali mengalir ke sekujur tubuh pucatnya.

Dia hanya mengangguk tanpa sanggup berucap. Dia hanya mengiyakan apa yang gres saja kukatakan tanpa bertanya. Dia percaya padaku dan menyerahkan nasibnya padaku, kepada Famitha sang pemangsa. Aku sendiri masih belum yakin dengan apa yang akan kulakukan, tapi naluriku bekerja lebih cepat dari logika.

Kuraih tangannya dan segera kutuntun keluar dari toilet itu. "Ikut aku, Dara."

Ketiga laki-laki itu menatapku penuh kecurigaan ketika saya keluar dari toilet sambil menggandeng tangan gadis yang jadi buruan mereka. "Hey, Dara! Cepat ikut dengan kami, boss sudah menunggu kamu!" kata salah satunya.

"Siapa kalian! Ada urusan apa dengan Dara!" balasku menghardik.

Pria yang dipanggil 'Ron' tadi maju mendekat sampai wajahnya kurang dari sejengkal dari wajahku. Matanya liar menatapku dari ujung rambut sampai ujung kaki. "Siapa kamu? Apa urusan kau dengan dia?" ucapnya sinis.

"Dara kini bekerja dengan saya. Apabila kalian punya urusan dengan dia, harus lewat saya," suaraku meninggi menantang mereka. Kurasakan kemarahan dan ketidak sabaran laki-laki itu memuncak.

"Aku tidak ada urusan sama kamu, jangan cari masalah!" ucapnya kasar coba merenggut tangan Dara dari genggamanku.

Aku bereaksi lebih cepat dari gerak lamban insan fana manapun. "Eh, maaf Bung, siapapun kalian harus melewati saya dulu. Dara bekerja padaku dan kalian tidak bisa sembarangan." Telapak tanganku menahan gerak maju laki-laki itu sekaligus membuatkan rangsangan kewanitaan yang amat berpengaruh di pecahan dadanya.

Jantung laki-laki itu seketika berdesir dan geraknya terhenti oleh sentuhan lembutku. Dia menatapku lagi. Kali ini dengan tatapan gundah dan penuh keinginan. Kedua rekannya hendak bergerak maju namun ditahannya. "Tunggu dulu, biar saya hubungi boss lagi."

Dia pun segera menghubungi laki-laki yang dipanggil 'boss' itu lewat ponsel-nya. Apa yang kulakukan mungkin dipandang kurang cerdik dan naif oleh sesamaku. Mencampuri urusan mahluk fana dan mengesampingkan panggilan dari rasa hausku.

Terbayang olehku yang akan dikatakan Ruffus perihal apa yang sedang kulakukan. Mungkin saya akan semakin mengecewakannya, bahkan mungkin Ruffus sendiri akan frustasi membimbingku. Menolong insan oleh lantaran dorongan rasa iba ialah sesuatu yang sukar ditolerir. Akan tetapi saya merasa punya cukup alasan melakukannya. Aku yakin segala sesuatunya berjalan sesuai takdirku. Malam kadang bertindak penuh misteri membimbing anak-anaknya ke jalan yang penuh tanda tanya. Sama mirip perasaan hatiku ketika memasuki sebuah rumah megah untuk menemui seorang yang kuanggap jauh lebih berdosa dan lebih berbahaya dari penghisap darah mirip diriku.

Manusia yang akan kutemui ialah seorang yang dipanggil 'boss' oleh anak buahnya, seorang yang amat ditakuti oleh gadis malang berjulukan Dara, dan terlebih lagi ialah seorang yang dari suaranya saja kurasakan kejahatan dan ketamakan melebihi apa yang ada dalam diriku sendiri. Kejahatan apa yang dilakukannya sampai sesamanya begitu takut padanya?

***

Dara ialah gadis manis yang polos di balik dandanan dan make up tebal di wajahnya. Dia bertubuh langsing dan sangat menarik, ditambah usianya yang belum lagi dua puluh tahun. Malang sekali nasib gadis ini, pikirku. Dalam kemudaannya beliau telah direnggut oleh kebiadaban dan mahkotanya telah dihargai begitu rendah di luar keinginannya. Dalam hati saya gotong royong terkejut sanggup berpikir mirip itu. Mungkin Ruffus benar, saya sebagai kaum Lestatian terbiasa hidup dalam dunia insan fana. Saking terbiasanya saya mulai berpikir dan bertindak mirip mereka.

Aku dan Dara diperintahkan untuk menunggu di ruang utama rumah itu yang sangat glamor dengan perabotan antik berharga mahal. Sebuah lampu kristal besar menambah keangkuhan ruangan itu mirip menggambarkan huruf pemiliknya. Dingin dan kosong terasa dalam hati. Entah apa yang sedang dirasakan Dara ketika itu, namun ekspresi wajahnya kembali tegang dan penuh ketakutan ketika terdengar langkah-langkah seorang laki-laki menuruni tangga tepat di depan kami. Tangan lembut milik Dara menggenggam tanganku makin erat ketika tuan rumah, sang 'boss' muncul dari atas tangga. Darahku berdesir ketika pertama kali menatap wajahnya. Ingin segera kusudahi drama ini supaya saya sanggup terbebas dari kecongkakan yang memuakkan ini.

Pria itu berusia di awal tiga puluh dan berwajah cukup tampan. Tubuhnya yang tinggi dibalut kemeja sutra dan pada jari dan lehernya melingkar cincin dan kalung emas yang mencolok. Pria ini terlihat amat pesolek dengan wajah cuek dan sadis. Pria itu berhenti selangkah di depanku, pandangannya seolah menelanjangiku ditambah seringai culas di wajahnya. Dia kemudian berjalan mengelilingiku memuaskan matanya dengan menjelajahi seluruh tubuhku. Kurasakan sepasang taringku mulai tumbuh dalam ekspresi ini dirangsang oleh kemarahan, akan tetapi masih sanggup kukendalikan sampai kembali normal.

Puas denganku, laki-laki itu melemparkan pandangannya ke arah Dara yang berdiri merapat kepadaku mirip seorang gadis kecil yang minta perlindungan. Pria itu menatapnya penuh hina dengan senyum sinis yang menistakan.

"Hmm, jadi kau sudah punya majikan gres sekarang," suaranya cuek menghardik Dara. "Bisa kulihat bagaimana kau merasa dekat dengannya, bahkan basi kalian sama.. sama-sama basi pelacur!"

Mataku melotot ke arahnya penuh kegeraman, beliau merasakan itu akan tetapi tidak dihiraukannya. Pria mirip beliau terbiasa merasa mempunyai semua perempuan yang dikehendakinya.

"Hai, siapapun anda.. anda tidak punya hak apapun atas diri gadis ini. Dia kini bekerja untukku dan untuk itu segala sesuatu perihal dirinya ialah tanggung jawabku!" 

Suaraku rupanya memancing amarahnya. Segera beliau menghampiriku dan menatapku penuh intimidasi sambil tangannya menyentuh daguku dengan kasar. "Perempuan, siapa kau sampai merasa bisa seenaknya mengambil sesuatu yang menjadi milikku?"

Dia mangangkat daguku penuh pelecehan, namun Famitha sang pemangsa masih ingin memainkan drama ini. "Lepaskan tangan kotormu itu dari wajahku atau kau akan merasakan akibatnya!" 

Ucapanku ditanggapinya dengan senyum penuh ejekan. Tangannya dilepaskan dari daguku kemudian barkata, "Aha, perempuan ini rupanya punya nyali juga. Jarang sekali perempuan berani menantangku mirip ini, sebutkan siapa namamu?"

"Namaku Famitha dan saya tidak peduli siapa anda, saya tidak bisa mendapatkan perlakuan ini. Apabila anda menggunakan kekerasan, saya juga bisa melakukannya pada anda!"

Tiba-tiba terlintas sebuah ilham di kepalaku. Sebuah rencana yang menarik buatku untuk memainkan drama ini. Menarik sekali buat seorang pemangsa mirip diriku berada dalam konflik manusia-manusia fana yang sedang dipenuhi hawa nafsu.

"Wah! Perempuan jalang ini mengancamku. Aha, kalau begitu maafkan kelancanganku ini. Namaku Jimmy, orang mengenalku sebagai Papa Jim. Aku ialah pengusaha, dan gadis itu ialah salah satu asset perusahaanku. Ehm, sebelum diambil alih olehmu tentunya," nada suaranya berubah.

Sepertinya beliau juga sudah mulai menikmati drama ini. Jelas sekali beliau menyembunyikan minat sesungguhnya. Sesuatu yang sudah diantisipasi olehku.

"Sepertinya saya mengerti maksudmu. Aku tahu kalau kau juga seprofesi denganku, dan oleh lantaran itu anggap saja suatu kehormatan apabila saya punya sebuah penawaran padamu malam ini."

"Hmm.. saya lebih senang begitu. Aku juga seorang pengusaha dan lantaran itu saya selalu terbuka untuk segala macam penawaran," saya tersenyum menebar pesona dan keanggunanku di hadapannya.

Pria berjulukan Papa Jim itu membalas senyumanku kemudian berkata lembut, "Bagus kalau begitu, kini mari ikut aku. Kita bicarakan itu di ruang kerjaku supaya lebih nyaman."

Aku melepaskan genggaman tangan Dara sambil berkata, "Kamu tunggu saja di sini dan jangan takut lantaran saya tidak akan jauh darimu."

Ucapanku itu rupanya tidak sanggup menenangkannya, lantaran Dara terlihat masih ketakutan. Dia mendekatiku kemudian berbisik dengan bunyi gemetar, "Ja-jangan percaya padanya, D-dia terlalu licik dan beliau niscaya punya rencana jahat padamu... juga aku..."

"Percayalah padaku," sahutku menyela.

Dara tidak sanggup meneruskan lagi ucapannya lantaran pesonaku menyelimuti pandangannya sampai beliau menuruti keinginanku.

Kutinggalkan beliau masih duduk di atas sofa kulit itu penuh kecemasan dikelilingi tiga orang anak buah Papa Jim. Dara khawatir sesuatu yang jelek terjadi padaku, namun gotong royong apa yang sanggup menyakitiku? Sebagai makhluk abadi, saya tidak mempunyai pemangsa, sebaliknya saya merasa sanggup menemukan semua kebutuhanku malam ini sekaligus.

Kebencianku pada pria-pria di sini semakin membangkitkan seleraku untuk segera menguras habis darah mereka. Akan tetapi sebelum itu saya mempunyai rencana lain untuk memuaskan gairah seksualku yang berdiri seiring rasa dahagaku. Begitu saya selesai dengan mereka semua, maka Dara juga akan bebas dari ketakutan.

Menolong gadis malang itu ialah alasan utamaku ke sini. Aku pun mengikuti langkah laki-laki gemuk itu menuju sebuah ruangan lain diikuti tatapan penuh hasrat dari tiga orang anak buahnya yang sudah terbius oleh pesona Famitha sang dewi malam. Aku mengikuti Jimmy memasuki ruang kerjanya yang cukup luas dengan interior klasik yang terkesan amat mewah.

Ruangan itu didominasi warna emas dengan furniture yang semuanya hand-made. Aku kemudian duduk berhadapan dengannya dipisahkan meja kerja yang besar berbentuk oval yang amat artistik. Sayang sekali pemandangan laki-laki gendut di seberang meja itu jauh dari kesan artistik dan klasik dari meja itu. Jaket pendek berbahan sifon yang kukenakan sengaja kulepas di hadapannya sebelum saya duduk. Kini tubuhku lebih terbuka dengan halter neck warna ungu yang membalut tubuhku sampai siluet payudaraku tercetak indah di permukaannya.

Pria gembrot yang biasa dipanggil Papa Jim itu menatapku dengan cuek namun penuh hasrat. Dia kemudian menyalakan rokok yang kemudian dihisapnya melalui filter panjangnya. Tatap matanya kini tertuju pada pecahan dadaku yang menyembul membentuk pemandangan yang cukup membuat jakunnya turun naik beberapa kali.

"Nah Jimmy, saya kemari bukan untuk kau jadikan tontonan kan? sudah saatnya kita bicarakan penawaranmu tadi," suaraku membuyarkan fantasy bejat yang sempat menggumpal di benaknya.

"Ehm, panggil saya Papa Jim," jawabnya menjengkelkan.

Aku berusaha tampil dengan feminitas manusia-ku walaupun rasa haus ini kian merongrong kerongkonganku yang makin terasa kering. "Baiklah Papa Jim, waktuku terbatas jadi segera kita bicarakan penawaranmu atau saya segera membawa Dara pergi dari sini," jawabku sedikit ketus.

Pria gendut di depanku tersenyum culas kemudian berkata sambil menyembulkan asap rokoknya. "Aku heran, kenapa kau tertarik mempekerjakan seorang pecandu mirip Dara?"

"Tentunya saya melihat potensi dalam dirinya yang bisa kukembangkan sampai mendatangkan keuntungan buatku."

"Ah, potensi! Itulah persamaan kita berdua. Hanya saja kau melihat potensi dalam dirinya sedangkan saya hanya melihat potensi pasar saja. Sifat feminim yang sensitif itu tidak akan membuatmu berhasil dalam bisnis ini, Famitha. Maafkan kelancanganku bila saya justru beropini bahwa perempuan secantik kau lebih bisa menerima keuntungan apabila menjadi asset bisnis dibanding pemilik bisnis mirip ini."

Iblis dalam batinku meronta mendengar ucapan itu. Ingin rasanya saya menarik keluar lidahnya sampai putus, namun kupendam jati diriku gotong royong dan membiarkan sisi feminim-ku yang bereaksi. Pipiku memerah sebagai respon dari rasa marahku padanya. Kubiarkan sentimen kewanitaanku terang terbaca olehnya sampai beliau merasa superior dan berkuasa atas diriku.

"Ah, Famitha, kau masih terlalu polos dalam bisnis ini. Sekali lagi maafkan kata-kataku tadi. Hmm.. sudahlah kini kita pribadi ke pokok pembicaraan," Jimmy kembali menghisap rokoknya kemudian dihembuskan ke arahku sambil melanjutkan, "Aku gotong royong sudah tidak memerlukan gadis itu, tapi bagaimanapun beliau ialah assetku, jadi kau tidak bisa mengambilnya begitu saja."

"Sebutkan harganya, berapapun saya sanggup bayar," jawabku.

Jimmy menggeleng sambil tersenyum mengejek, "Heh, saya tidak perlu uangmu. Bisnisku jauh lebih besar dari bisnis eceran macam kau dan asset-assetku berjumlah banyak. Simpan saja uangmu untuk membiayai rehabilitasi barang inferior yang sudah aus itu."

Kini makin terang huruf laki-laki rakus di depanku itu. Arogan, licik, penuh hawa nafsu dan gemar mempermainkan perasaan. Suatu kombinasi yang menjijikkan sekaligus merangsang hasratku untuk memangsanya. Aku berusaha menahan diri. Aku masih ingin memainkan kiprah fana ini lebih usang lagi. Nasibnya terang berada di tanganku dan akan lebih menyenangkan mempermainkannya lebih dahulu.

"Jangan terus mempermainkan aku, Papa Jim, Sebut saja keinginanmu dan akan kupenuhi asal Dara bisa keluar dari bisnis busukmu ini!"

"Heh.. kau memang tidak punya pilihan lain kecuali memenuhi tawaranku apabila masih ingin membawanya."

"Cukup! Apa yang kau inginkan dariku?"

Jimmy sedikit memajukan posisi duduknya dan mendekatkan wajahnya ke arahku, kemudian berkata datar, "Tubuhmu."

Seketika hasratku berpesta lantaran permainanku mulai mencapai pecahan yang menyenangkan. "Aku juga." jawabku dalam hati lantaran libidoku meningkat seiring rasa haus darahku.

Tapi saya sengaja berdiam diri dan memberi kesan terkejut. "Kau memang licik, Papa Jim, selain rakus kau juga gemar menaklukan setiap perempuan yang kau inginkan."

"Hahaha, kau mulai mengerti kan aturan dari bisnis ini. Yang mempunyai banyak, mendapatkan banyak. Yang menang mendapatkan semua, yang kalah mendapatkan nista," ucapnya penuh kemenangan. "Kalau kau pikir dengan membawa Dara dariku kau sudah menang, maka saya akan menunjukkan kemenangan itu padamu, sesudah saya mengambil semuanya darimu, kau akan keluar dari sini dengannya sebagai dua orang pelacur yang sudah tidak terpakai lagi."

Ucapan itu begitu tajam dan menyakiti perasaanku sebagai seorang wanita. Kini gres saya paham dualisme yang kuhadapi sebagai seorang Lestatian. Berinteraksi dengan insan berarti merasakan sisa-sisa sifat natural insan yang berada dalam diriku. Sisi luarku merasa terhina dan amat dinista oleh ucapan itu sementara naluriku sebagai pemangsa justru ter-stimulasi dengan ucapannya itu.

"Bagaimana?" ucapnya sambil mengetukkan jarinya di atas meja.

Aku pun segera berdiri diikuti pandangan Jimmy yang penuh tanda tanya. Kelenjar-kelenjar hormon di tubuh mati ini bekerja secara asing membuat rangsangan sendiri bagi tubuhku sampai gelombang kenikmatan merayap di seluruh permukaan kulitku. Wajahku penuh ekspresi sensual sampai tatapan penuh selidik itu bermetamorfosis pandangan penuh nafsu dan minat. Jimmy menatap mirip ingin menelanku bulat-bulat sampai desah napasnya mulai memburu ketika aku, Famitha sang pemangsa merentangkan sayap pesona dan seksualitas di hadapannya.

"Baiklah, Papa Jim, nikmati apa yang bisa kau nikmati dariku."

Senyuman culas itu kembali menghiasi wajah bulatnya yang menjengkelkan. Aku pun tersenyum lantaran bagiku itu ialah wajah orang mati. Tubuhku ialah khayalan semua lelaki dan napasku ialah hasrat dan nafsu para penyembah libido. Aku ialah ratu dan Jimmy ialah budakku.

Tubuh semampai ini, lekuk kewanitaan ini, kaki yang jenjang, jemari yang lentik, payudara yang indah serta senyum di wajah bidadari ini ialah rantai dan pasung yang membelenggunya. Libido yang disembah lelaki busuk ini sudah memerintahkannya untuk takluk padaku. Sedangkan liang kewanitaanku menyebar aroma yang membius dan memancarkan gairah yang didambakan olehnya.

Bagai seekor kucing liar saya menaiki meja oval di depanku. Sepasang hak sepatuku bagai cakar tajam mencengkeram berpengaruh di atasnya. Aku berjongkok sampai celana panjang ketat yang kukenakan menampilkan cetakan kawasan pubisku di pecahan selangkangan. Papa Jim menganga bagai seekor primata dari balik kerangkeng hawa nafsunya sendiri. Kudorong tubuh gembrot itu sampai tersandar di kursinya. Masih sempat beliau tersenyum kolam raja iblis dari singgasana neraka.

Jemari lentikku menari dengan lincah melepaskan kancing bajunya satu demi satu. Sangat cepat namun halus tanpa merusak kemeja mahalnya. Masih dalam posisi berjongkok di atas meja, kuulurkan kedua tanganku ke depan sampai tubuhku bertumpu pada sandaran kursinya, singgasana raja iblis itu. Pembuluh nadi di lehernya karam oleh lapisan lemak yang membuatnya mirip seekor orangutan gemuk. Kujilati lehernya sampai beliau kegelian, kujilati ke pecahan dada sampai aroma parfum mahalnya karam oleh peluh kenikmatan yang mengucur kian deras.

"Haah, nikmatnya," beliau berkata pada dirinya sendiri. Dia niscaya puas dilayani oleh sang hawa birahi Famitha yang penuh pesona. 

Kukecup puting kasar yang ditumbuhi bulu-bulu dada itu. Pria berlemak ini dadanya lebih mirip payudara kendor daripada dada bidang yang maskulin. Kuhisap sampai beliau merintih bagai seekor kambing yang sedang disembelih. Kering dan buruk! Aku kini dalam posisi merangkak mirip seekor rusa yang sedang minum di tepi sungai ketika kulepaskan ikat pinggangngya.

Tubuhku merangkak kian rendah ketika kubuka retsleting dan celana dalamnya. Kejantanan Papa Jim menyeruak dari balik celana dalam seolah tersenyum tepat di depan wajahku. Aroma laki-laki tercium berpengaruh di hidungku dan liurku tidak tertahan memenuhi ekspresi mungil ini ketika penis yang tidak lebih besar dari sosis itu mencapai ereksi maksimalnya. Bibirku yang lembap segera membungkusnya, mengulum dengan penuh selera sampai mulutku terasa penuh olehnya.

Aku merangkak di atas bagai seekor rusa, namun saya minum dari sungai hawa nafsu. Dapat kudengar bunyi deras alirannya ketika mulutku semakin berpengaruh menghimpit dan menghisap kemaluan Papa Jim. Suara air yang deras itu berasal dari deru napas laki-laki gendut yang terdengar seru kolam kuda pacuan. Perut buncitnya memang cukup menghalangiku, namun tidak sanggup menghalangi syahwat Papa Jim yang telah mencapai puncaknya. Rambutku dicengkeram berpengaruh olehnya ketika lidahku berhasil membawanya ke surga.

"Ahh.. ahh..!" seru 'raja iblis' itu ketika pengecap liar milikku berhasil membuatnya menjebol pintu surga.

Seketika mulutku dipenuhi cairan putih yang kental dari penis yang kini telah lunglai sehabis melaksanakan tugasnya. Aku pun kembali berjongkok mirip seekor burung nazar yang habis melahap bangkai. Kulepaskan senyuman dari bibir yang masih penuh lelehan sperma, kemudian menciumnya penuh hasrat. Lidah Papa Jim dengan rakus menjulur menjelajah ke dalam mulutku. Lidahku dikulumnya dengan rakus dan sesudah puas beliau mendorongku sampai terduduk di atas meja oval itu.

"Luar biasa heh, tidak mengecewakan juga untuk seorang pelacur baru, hehehe.." beliau tertawa mirip kambing, kering dan buruk. Mulutnya masih megap-megap lantaran napasnya masih memburu. Kini beliau tersenyum penuh kemenangan.

Aku menyeringai dan menatapnya jijik lantaran di bibir dan kumisnya kini dipenuhi lelehan spermanya sendiri sesudah menciumku. Papa Jim masih tersenyum menatapku sambil membersihkan sisa-sisa spermanya sendiri di sekitar mulutnya.

"Bagimana? Puas?" tanyaku padanya.

Sebenarnya saya sudah tahu apa jawabnya kerena pandangan mata itu masih penuh gairah dan hasrat. Organ tubuhnya memang sudah lebih dulu lemah, tapi nafsu besarnya belum surut. Papa Jim menggerakan jari telunjuknya menandakan bahwa beliau belum selesai denganku.

"Hmm, tidak secepat itu pelacur, saya masih ingin menyaksikan tubuh indahmu ditunggangi mirip seekor kuda binal oleh salah satu anak buahku." Papa Jim mengaktifkan interkom yang terletak di mejanya kemudian memberi instruksi singkat, "Ron, cepat masuk kemari!"

Sesaat kemudian laki-laki yang dipanggil 'Ron' itu melangkah masuk dengan gagah. Wajahnya menatapku penuh selera mirip melihat hidangan malamnya yang tergolek di atas meja.

"Ayo, kini kau boleh makan dari meja majikanmu," 

Perintah Papa Jim segera ditanggapinya. Dalam waktu singkat tubuh tinggi kekar itu sudah menurunkan celananya sampai siluet penis yang cukup besar tercetak di atas permukaan celana dalamnya. Aku kembali dilanda ekstasi akan birahi ketika bunyi sungai hawa nafsu terdengar lagi menderu di telingaku. Gelombang dan arus derasnya juga terbias di wajah laki-laki muda yang sebentar lagi bakal menikmati tubuhku. Aku memandangnya penuh hasrat sambil tersenyum lantaran saya kini sedang menatap satu lagi wajah orang mati.

Tubuhku ditariknya turun dari atas meja, kemudian beliau memutar tubuhku membelakanginya. Sentuhan lidahnya tiba-tiba kurasakan menjilati tengkuk dan leherku sampai diriku kembali dibakar gairah. Aku tidak sempat menikmati perasaan geli di leherku cukup lama, lantaran mendadak tubuhku didorongnya sampai nyaris terhempas di atas permukaan meja. Kedua tanganku menopang tubuh yang sempat menempel di permukaan meja itu. Dengan gerakan yang cepat, laki-laki di belakangku menurunkan celana dan G-string yang kukenakan sampai dinginnya AC sanggup kurasakan di kulit pecahan bawah pinggangku. Aku memejamkan mata menantikan kejantanan laki-laki itu memasuki liang kenikmatanku yang mulai menebar aroma cinta dan nafsu.

"Perbuatlah sesukamu Ron, buat perempuan jalang ini menjerit!" kata Papa Jim dengan suaranya yang mulai serak sambil coba untuk membangkitkan kembali penisnya yang masih lemas.

Betul, perbuatlah sesukamu insan malang, alasannya ialah akan ada saatnya bagianku melaksanakan itu padamu, demikian bunyi batinku dalam kehausan yang kian merongrong.

Sepuluh menit berikutnya, saya sudah berada di awang-awang, terhanyut dalam arus deras sungai hawa nafsu ketika kejantanan yang kokoh milik laki-laki berjulukan Ron itu menembus bibir vaginaku sampai memenuhi dinding dalamnya. Sepuluh menit dalam perjalanan penuh liku dan gairah, berkelok-kelok mengikuti alur sungai yang senantiasa membuat tubuhku mengejang tiap kali dorongan lelaki itu membuat gelombang kenikmatan yang menghantam sampai kepalaku. Dia benar-benar menunggangiku, saya dan beliau bagai sepasang anjing liar yang sedang kawin.

Di sampingku Papa Jim beberapa kali mengerang sendiri menikmati pertunjukan hawa nafsu sambil onani. Sepasang tanganku yang menahan tubuh di atas meja meninggalkan bekas cakaran di permukaan kayu mahalnya. Aku bagai kucing liar yang meraung-raung sambil tetap menyodorkan sentra kewanitaanku untuk berkali-kali diguncangkan oleh kekuatan maskulin yang dahsyat dari batang kejantanan kokoh yang bersarang di dalamnya. Permainan gairah yang penuh hasrat itu akhirnya berakhir ketika sungai hawa nafsu mencapai muaranya.

Saat itu sanggup kurasakan seluruh kenikmatan dan kejahatan dalam ruangan itu seakan bersatu dan terkumpul di ujung penis yang sedang menghujam tubuhku dalam usahanya yang paling akhir. Dunia menjadi samar dan ribuan peri tempak bernyanyi mengelilingiku ketika cairan sperma lelaki yang jadi budak nafsukku menyembur bersatu dengan lelehan kenikmatan yang membanjiri liang vagina yang sudah berumur ratusan tahun milikku ini. Orgasme menyerbu dan menyelubungi setiap sel dari mahluk malam mirip diriku.

"Uuuhh..!" saya menjerit, entah melenguh atau bahkan melolong kolam serigala lapar disahuti oleh erangan jantan seekor kuda pacu yang telah mencapai finish.

Dua orang laki-laki dibius ejakulasi sementara seorang bachae karam dalam orgasme di muara sungai yang berjulukan hawa nafsu. Kenikmatan itu begitu nikmat menjalar bagai sengatan listrik mulai dari kedalaman kemaluanku sampai keujung-ujung jari, bahkan menusuk ke dalam otakku.

Tubuhku rebah menelungkup di atas meja dan selama beberapa ketika anak buah Papa Jim yang berjulukan Ron itu menindihku dari belakang, kelelahan sesudah membanjiri vaginaku dengan spermanya. Kurasakan penisnya masih bercokol menyumbat kemaluanku sampai ukurannya kembali mengecil sebelum dicabutnya. Napasku masih memburu berpacu dengan desah napas dua orang lelaki yang gres saja mencapai puncak kenikmatan bersamaan denganku. Sempat kurasakan pengecap laki-laki itu menjilati butiran keringat di belakang leherku sebelum beliau kembali menegakkan badannya dan menarik keluar pilar kejantanannya dari dalam liang senggamaku yang sudah lembap sampai cairan spermanya terasa keluar mengalir sampai pahaku.

Kubalikkan tubuh ini, kemudian sambil bersandar di meja kubersihkan sisa-sisa sperma itu dengan tissue, kemudian mengenakan pakaianku lagi. Kali ini tatapanku beradu dengan sorot mata Papa Jim yang tampak memandangku hina dan congkak. Senyum culas tersungging dari mulutnya melihat perempuan yang berhasil ditaklukkannya dengan cara nista.

"Nah pelacur, kini kau boleh pergi bersama barang dagangan barumu.. hehehe... itu pun kalau masih bisa digunakan mengingat anak buahku yang lain sudah menyuntikkan morfin takaran tinggi padanya ketika kau tadi sedang dibentuk menggelepar keenakan oleh si Ron!"

Tiba-tiba benakku dibayangi sesuatu yang menakutkan, Dara!

Ketika saya tadi memuaskan nafsu sex-ku dengan laki-laki berjulukan Ron itu, rupanya Papa Jim licik dan melaksanakan sesuatu yang jelek pada gadis yang seharusnya kulindungi. Segera saya melangkah dengan tergesa meninggalkan Papa Jim yang membiarkanku keluar ruangan sambil memperdengarkan bunyi tawanya yang menjijikan itu. Serigala dalam batin ini kembali menggeliat. Alangkah terkejutnya saya ketika mendapati Dara terbujur lunglai di atas sofa dengan ekspresi mulai berbusa. Tubuhnya terlihat kejang-kejang dan wajah polosnya itu tampak pucat. Sebuah suntikan yang sudah kosong isinya terlihat berada dalam genggaman seorang anak buah Papa Jim yang berdiri di sampingnya.

"Dara..!" saya berseru sambil berlari menghampirinya. Entah kenapa ada suatu naluri dalam diriku yang merasa begitu bersalah lantaran meninggalkannya. Perasaan itu amat asing buatku dan membuatku terkejut sendiri akan 'kemanusiaan' yang sekejap melandaku. Kupeluk dan kuletakkan beliau di atas pangkuanku sambil berusaha menyadarkannya.

"Dara, Dara..! Ja-jangan takut, saya ada di sini.. Dara, kau dengar saya khan, kau harus dengar aku.. kita pergi dari sini!"

Kurasakan denyut nadinya melemah dan napasnya mulai tercekik. Aku gundah akan semuanya, saya heran akan drama yang tadinya kumainkan dengan penuh kesenangan berubah manjadi rasa cemas dan takut kehilangan. Rasa bersalah timbul lantaran saya begitu bergairah menikmati segala kenikmatan yang bisa kudapatkan.

Kupejamkan mataku berusaha mengumpulkan kesadaranku lantaran sesaat saya menjadi gamang dan diriku mirip terpecah antara kemanusiaan dan keberadaanku sebagai seorang Bachae. Aku sudah biasa jatuh cinta pada insan fana dan perasaan itu amat menyenangkan. Akan tetapi yang kurasakan kini ialah sesuatu yang sukar digambarkan. Sesuatu yang tampaknya tidak mungkin ada dalam diri seorang Bachae, mahluk abadi mirip diriku, yaitu perasaan takut kehilangan dan perasaan bertanggung jawab atas nasib yang dialami gadis fana yang terbujur meregang nyawa di pangkuanku.

"Hahaha! Jangan kau pikir semudah itu bisa mengambil apa yang menjadi hak milikku, saya Papa Jim tidak pernah kehilangan sesuatu apapun dan tidak akan pernah membiarakan siapapun melaksanakan itu. Tidak oleh seorang pelacur murah mirip kau!" bunyi Papa Jim mengagetkanku akan keberadaannya. Kini beliau didampingi ketiga anak buahnya berdiri di depanku.

"Dara ialah seorang pelacur yang tidak mengecewakan laku, sayangnya beliau tidak tahu berterima kasih. Apalagi beliau dipengaruhi oleh kekasihnya yang kini sudah menjadi bangkai," Pria congkak itu membetulkan celananya kemudian melanjutkan, "Dara bagiku cuma barang yang bisa saja diganti dengan yang baru. Tapi kau ialah perempuan kurang cerdik yang sudah terlalu banyak tahu! Sayang sekali kau harus bernasib sama lantaran saya tidak ingin semuanya terbongkar. Bersiaplah untuk jadi makanan cacing!" ujar Papa Jim sambil menggerakkan tangannya memberi kode pada ketiga anak buahnya.

Tiga orang laki-laki berbadan gempal itu melangkah ke arahku, yang berjalan paling depan ialah laki-laki berjulukan Ron yang gres saja menikmati tubuh indahku. Sebuah kawat berbentuk jerat berada di tangannya dan saya pun segera tahu apa yang akan mereka perbuat padaku. Manusia-manusia kurang cerdik itu hendak membunuhku? Bagaimana mungkin mereka sanggup membunuh seorang perempuan yang sudah mati ratusan tahun yang lalu? Serta merta jantungku yang memang sudah tidak berdenyut itu membara seiring rasa nyeri di seluruh tubuhku ketika jaringan otot ini bermutasi ke fungsinya yang gotong royong mengaktifkan kelenjar-kelenjar iblis yang membuat gusi mulutku mendorong taring-taring tajam ini kembali muncul menyeruak dari balik bibir indahku.

Aku pun tersenyum cuek membiarkan air liurku menetes deras lantaran rasa haus akan darah segar yang tiba-tiba kurasakan. Aku tersenyum memandang empat wajah orang mati di depanku! Aku ialah pengantin sang rembulan dengan maut di tanganku. Aku telah menunjukkan kenikmatan dan kini akan mengambil bagianku. Empat pasang mata terbelalak dalam kengerian ketika kecantikan wajahku dan kemolekan tubuhku tidak lagi menarik hati mereka. Mereka niscaya berharap tidak pernah bertemu denganku atau mungkin berdoa supaya yang mereka lihat hanya mimpi.

Pria berjulukan Ron itu menjerit bagai binatang sembelihan ketika darahnya menyembur bagai air mancur ketika pembuluh lehernya tercabik cakar bengis dari jari-jari lentik ini. Dia niscaya menyesal telah menyetubuhiku bagai binatang liar tadi lantaran saya gres saja merobek-robek lehernya bagai binatang liar. Tubuh kekarnya roboh bagai benang lembap bermandikan darah, membuat tiga orang laki-laki lainnya sadar akan nasib mereka.

Aku mendesis bagai ular menyemburkan liur bercampur darah ke wajah Papa Jim yang pucat pasi. Dia ingin lari namun lututnya terkunci pada engsel-engselnya. Kudekatkan taringku ke wajahnya sampai tercium basi pesing dari balik celananya. Pria pongah itu terkencing-kencing ketika nyawanya jadi mainanku. Kubiarkan beliau hidup sedikit lebih usang dalam ketakutan dan kualihkan pandanganku pada dua orang anak buahnya yang lain. Dua orang laki-laki bebadan kekar tampak berusaha lari ke arah belakang meninggalkan majikannya sendirian. Tubuh mereka tampak berat menyeret ketakukan sampai dengan praktis kumelayang ringan menyusul langkah mereka.

"Hissh.. hisshh..!" bagai ular betina kupamerkan taringku di depan mereka berdua.

Seorang rupanya kalap dan mengayunkan tinjunya padaku. "Setaan kauu..!" teriaknya sambil meninju sekuat tenaga.

Tanganku yang langsing bergerak cepat menangkap kepalan tangannya sampai tinjunya terhenti di udara. "Kraak!" terdengar gemertak tulang ketika kuremas kepalan besar lelaki itu sampai remuk.

"Betul insan malang, saya memang setan dan kau ialah makanan cacing!"

Lelaki itu mengaduh kesakitan berusaha melepaskan tangannya.

"Itu belum seberapa sakit," jawabku serta merta mendaratkan gigitanku ke lehernya. Demikian kuatnya taringku tertancap di kulitnya kemudian dengan sekali cabik kurasakan jakun laki-laki itu sudah dalam mulutku.

"Arrgghh..!" darah menyembur menciprati wajah manis milikku.

"Phuaah..!" kuludahi wajah laki-laki itu dengan darah dan jakunnya sendiri. Satu lagi yang menemui ajalnya. Kutinggalkan tubuh laki-laki itu berkelojotan ketika nyawanya putus dan kini kuarahkan langkahku ke laki-laki yang satu lagi.

Pria itu yang memegang jarum suntik! Pria itu yang membuat Dara sekarat! Dia terpojok di sudut ruangan dan matanya membelalak ketakutan. "Ja-jangan bunuh sa-saya..!" beliau meminta pengampunan sambil bersujud mirip menyembahku.

"A-aku cuma di..s-suruh! A-am.. ampuuni sa-saya!" pintanya.

Dia tidak sanggup melaksanakan itu padaku, seharusnya beliau melaksanakan itu pada malaikat pencabut nyawa yang terasa berdiri dekat dengannya. Aku melangkah maju sambil menggeram. Ketukan hak sepatuku menandakan detik-detik kematiannya dan sanggup kulihat malaikat maut itu tersenyum padaku, manis sekali.

"Berhenti memohon padaku insan bodoh! Aku bukan ingin membunuhmu, tapi saya cuma haus.. haus akan darahmu! Lebih baik kau mohon pada malaikat mautmu supaya apabila saya selesai meminum darahmu kau masih hidup.. hihihi..!" tawaku terhenti sendiri ketika taring-taring ini menembus pembuluh nadi di lehernya.

Pria itu pribadi kejang-kejang ketika darahnya kuhisap. Urat-uratnya tampak mengeras membiru di permukaan kulitnya ketika cairan merah nan kental itu membanjiri kerongkonganku. Alangkah nikmatnya bagiku sesudah cukup usang menahan rasa dahaga ini. Ketika tetesan darahnya yang terakhir memenuhi mulutku segera kulepaskan pagutan ekspresi ini dari lehernya dan meninggalkan tubuh kaku yang pucat pasi itu masih berdiri tegak namun tidak bernyawa lagi!

Aku kemudian memalingkan wajahku mencari target utamaku tadi. Pria arogan berjiwa binatang yang sudah menghancurkan hidup Dara. Kini saatnya Papa Jim menyambut kematian pikirku. Kudekati tubuh gembrotnya yang terduduk kaku di depan sofa tempat Dara terkulai namun kudapati Papa Jim sudah kaku dengan wajah pucat dan ekspresi menganga. Rupanya beliau mati ketakutan. Dibunuh oleh rasa takut dan kengerian yang amat sangat melihat 'tontonan' yang gres saja kuberikan padanya.

Sepertinya malaikat maut pun tidak sabar untuk mencabut nyawanya sampai mendahuluiku melaksanakan itu. Biarlah pikirku, lagipula darahnya niscaya terlalu anyir dam memuakkanku. Aku tidak ingin lambung ini dikotori darah najis insan congkak itu. Deru napasku mulai teratur dan air liurku sudah berhenti menetes mengambarkan dahaga ini sudah terpuaskan. Perlahan kubiarkan metabolisme tubuhku kembali mirip semula sampai taring-taring ini kembali tertarik ke dalam gusiku.

Sesaat kemudian saya telah kembali ke wujud normalku, namun kembali rasa cemas menghantuiku melihat Dara yang masih tergolek tidak berdaya sambil terus mengeluarkan busa dari mulutnya. Aku curiga beliau tidak hanya disuntik heroin melainkan zat beracun lain yang memang ditujukan untuk membunuhnya. Aku tidak sanggup berbuat apa-apa selain meletakkan tubuh gadis malang itu di pangkuanku sambil mengusap-usap rambutnya.

"Maafkan aku, apabila saya tidak sanggup menyelamatkanmu." Tanpa terasa air mataku membasahi pipi ini. Aku kembali penuh penyesalan dan rasa bersalah.

Kematian pria-pria keparat itu tetap saja tidak mengembalikan hidup Dara yang sesaat lagi akan berakhir di pelukanku. Ternyata yang kulakukan gotong royong tidak lebih dari pemuasan keinginanku saja. Aku tidak lebih dari seorang Bachae yang mencari kesenangan seksual dan kepuasan akan darah. Aku meratapi diri sendiri seakan tubuhku menipuku. Segala perjuangan yang kulakukan sia-sia. Malahan sanggup saja Dara lebih baik apabila saya tidak campur tangan semenjak awal.

Pikiranku kalut dan saya merasa tidak berarti. Ternyata keabadian tidak sanggup mengganti satu nyawa dari gadis tidak berdaya ini. Tubuh Dara semakin dingin, nyaris sedingin angin malam yang bertiup lewat jendela-jendela rumah besar itu. Amat cuek walaupun ternyata tidak sedingin hatiku.

Tiba-tiba saya merasakan sesuatu dalam udara malam yang penuh misteri itu. Sesuatu yang bergerak bersama angin malam, sesuatu yang tidak terlihat bagai pekatnya malam. Sesuatu yang terselubung kegelapan malam namun bukanlah malam itu. Sesuatu yang kehadirannya begitu terasa sampai memenuhi relung hatiku yang hampa. Seketika angin puting-beliung berdesir di seluruh ruangan ketika kurasakan kehadiran pribadi itu!

"Ruffus?" saya berkata gamang, entah memanggil atau bertanya lantaran segalanya kembali mirip dejavu.

"Ruffus Valerius!" saya tersentak lantaran gres saya sadar akan kehadirannya.

"Kau.. kau ada semenjak tadi, bahkan mengikutiku semenjak tadi!" saya berpaling mencari sosoknya namun tidak kutemukan.

"Betul, matahariku, saya ada di sini," bunyi itu membawa kehangatan buatku dan mirip biasa laki-laki bertubuh jangkung bermata biru dengan rambut perak itu sudah berdiri di hadapanku.

Aku tidak sanggup berbicara, lidahku kelu dan hanya sanggup membiarkan tatapannya yang penuh kasih dan kehangatan itu seolah membelaiku tanpa sentuhan.

"Mea Solis, saya mengerti semuanya," beliau meletakkan tangannya mengusap pundakku.

Dia tahu apa yang kurasakan! Pembimbing dan pelindungku sang Nosferatian itu menyaksikan semuanya semenjak awal dan beliau mengerti semuanya!

"Ruffus, kau kembali lagi," kata-kataku masih mengambang.

Sorot matanya terlihat amat bijak ketika beliau menjawab perkataanku, "Famitha, saya memang belum pulang semenjak terakhir kita bertemu."

Ucapannya itu menjawab pertanyaanku di hari-hari terakhir ini. Ruffus ternyata belum pulang semenjak ketika itu. Karenanya pantas saya tetap merasakan kehadirannya dan saya senantiasa merasa diamati. Hanya saya tidak sanggup memastikan keadaannya sampai ketika ini.

"Aku harap kau tidak merasa terganggu dengan kehadiranku selama ini."

"Tidak.. tidak, saya gotong royong merasakannya tapi.. bagaimana dengan gadis malang ini? Kau niscaya akan menganggap saya gila lantaran mencampuri urusan kaum manusia, apalagi menolong gadis ini.. saya pikir.."

Ruffus menyela ucapanku dengan berkata lembut, "Jangan menyesal mea solis, kau cuma melaksanakan apa yang sudah dilakukan semua Bachae sebelum kau di sepanjang masa di seluruh dunia."

Ucapannya belum kumengerti. "Maksudmu..?"

Entah kenapa kehadiran Ruffus membuat kekhawatiranku perihal nasib Dara menghilang. Aku percaya betul pembimbingku ini sanggup membantuku menyelamatkannya. Hanya cara yang dikemukakan olehnya sama sekali tidak terbayang olehku sebelumnya.

"Sudah waktunya, Famitha," ucapannya yang singkat itu mendadak menggetarkan seluruh panca indraku, bahkan buku romaku bardiri lantaran apa yang gres saja diucapkannya ialah sesuatu yang selama ini sulit kutemukan jawabnya.

"Maksud kamu.. hmm, bagaimana mungkin?" saya masih coba mengelak namun tatapan Ruffus bagai pedang bermata dua menembus ke relung hatiku yang paling dalam.

"Bachuss telah menyiapkan semuanya, anakku, beliau mempunyai mata yang menembus ke segala masa dan padamu telah disiapkannya malam ini. Inilah saatnya kau melaksanakan kewajibanmu, tugasmu yang paling suci sebagai seorang Lestatian dan juga sebagai pecahan dari bawah umur Bachuss di seluruh dunia dan di segala masa."

Selanjutnya Ruffus menatapku menantikan jawaban. Sebuah tirai gelap yang ratusan tahun menaungiku bagai terkuak oleh pernyataan itu. Rupanya inilah saatnya saya meneruskan pewaris kegelapan nan abadi pada insan fana. Inilah ketika yang dimaksud di kala segala sesuatunya disiapkan oleh Bachuss sendiri bagi anak-anaknya untuk melestarikan keturuanan mahluk abadi. Sebuah kiprah suci yang hanya sanggup dilakukan olehku di bawah pengawasan pembimbingku sang Nosferatian.

Keadaan telah menuntunku ke waktu dan tempat mirip ini. Drama yang kumainkan ternyata membawaku pada tanggapan yang kucari selama berabad-abad. Kini nasib seorang gadis berada di tanganku. Tidak kuasa saya mengembalikannya kepada terangnya hari, alasannya ialah oleh lantaran diriku dan sifat kemanusiaan dalamku saya membuatnya mirip ini. Langsung maupun tidak langsung 

Dara telah dituntun oleh takdir untuk menemuiku, meminta tunjangan dariku. Bahkan gotong royong ketika inilah yang dinanti olehnya, satu dari sedikit insan fana yang terpilih untuk menjalani keabadian. Terpilih untuk minum pribadi dari cawan perjamuan yang abadi. Karena Bachuss ialah bapa dari para penuai anggur dan anggur yang ditawarkannya ialah keabadian. Kesucian dalam pengasingan dan dahaga yang kekal.

Aku berdiri sambil menggendong tubuh lunglai nan lemah mengikuti langkah panjang Ruffus menuju ke pintu keluar di mana sinar rembulan yang bersinar penuh menyambut dengan penuh kehangatan dan salam persaudaraan. Penghuni-penghuni malam yang abadi. Aku melayang bersama Ruffus sampai ke atap rumah glamor yang pemiliknya gres saja menemukan maut, kemudian meletakkan tubuh sekarat milik Dara di atas bubungan rumah yang luas dan besar. Sejenak kubiarkan tubuh lemah itu dibalut dan dibelai sinar rembulan nan lembut.

"Segalanya telah disiapkan bagimu anakku, marilah kita mulai.. Cruor Sacramentum."

Aku pun segera menghirup udara malam sebanyak-banyaknya sekalian dengan segala kesunyian, kesepian, kerinduan dan kejahatan yang terkandung di dalamnya. Bulan bersinar penuh ketika sekali lagi taring-taring runcing ini menembus kulit lembut di pecahan pembuluh nadi insan fana yang tidak berdaya. Kali ini kulakukan dengan perasaan yang berbeda lantaran hangatnya kasih Bachuss memenuhi tiap relung keabadianku dan taringku melaksanakan kiprah sucinya menghirup dara tidak berdosa dari anak insan yang polos dan menyerahkan dirinya pada keabadian sebagai pemuja Bachuss.

Ruffus segera memulai sakramen suci kaum Bachae bersamaan dengan mengalirnya darah segar dari tubuh Dara menghangatkan dan mengisi diriku dengan kehidupan baru.

"Kini saatnya, anakku, untuk mendapatkan perjanjian bersama Bachuss, bapa dari para penuai anggur yang setia di mana kau akan menemukan kesejukan jiwa dalam keabadian tubuh dan penderitaan yang suci. Karena Bachuss ialah pokok anggur yang sejati, maka barang siapa diberikan kehormatan untuk minum dari pokok anggurnya, berarti minum dari Bachuss itu sendiri dan barang siapa minum darinya maka beliau akan dahaga untuk selama-lamanya, berpengaruh di dalam segala sesuatunya bersama rembulan yang menunjukkan kemudaan dan kekuatan kekal selamanya."

Sesaat kemudian kuberikan hadiah terbesar dan suci yang sanggup kuberikan pada insan fana. Sesuatu yang paling berharga yang dimiliki kaum Bachae (vampire). Itu ialah kelahiran kembali dalam keabadian tubuh dan kekekalan rasa dahaga akan pokok anggur abadi yang juga mengalir dalam darah setiap insan fana. Air mataku mengalir penuh kebahagiaan dan sejuta kelegaan ketika Dara perlahan berdiri dari kematiannya dan pertama kali menghirup udara keabadian di bawah sinar rembulan.

Matanya terbuka dan menatapku penuh kasih. Bibirnya tersenyum dan mulutnya terbuka kemudian berkata, "Aku haus."

Aku dan Ruffus saling menggenggam tangan erat sambil mendengungkan doa suci kaum Bachae.

"Occulta in nocte lassa lacrima veniet.. Spectans intactus sed mox intabescam dolore nocente.. Possem purgari perustus sensemque extrahere.. Ad me amoris umbra ambulat.."

Ruffus kemudian menyanyikannya sekali lagi dengan irama khas kaum Nosferatian ketika saya menggandeng Dara meluncur turun dari bubungan rumah itu. Doa itu seolah menunjukkan sayap-sayap gres bagi Dara. Menumbuhkan kekuatannya untuk mengarungi kehidupan abadi sebagai seorang Bacchae. Bagiku, doa itu mengambarkan babak gres hidupku sudah dimulai. Aku bukan lagi seorang Lestatian yang kesepian lantaran kini saya mempunyai belahan hati yang abadi.

Sebentar lagi Dara harus segera pergi untuk mendapatkan bimbingan dari Ruffus. Oleh lantaran itu saya tetapkan untuk menikmati saat-saat bersamanya pertama kali dengan mengajarinya cara hidup yang utama dan paling fundamental bagi kaum Lestatian, yaitu memuaskan dahaga dan hasrat. Semuanya terjadi dalam suatu drama di malam panjang, suatu selesai dari pencarianku dan juga awal dari babak gres dalam hidupku. Semuanya terjadi di bawah langit yang haus darah.. Supter Cruentus Divum.


Author : Daitze Enthusiast 

Comments

Popular posts from this blog

The Great Hunter

Gairah Ibu Guru

Duka Tak Bertepi 11