Tak Terpisahkan
''Hore, LULUSSS...!''
''LULUSSS...!''
Seruan kelulusan bawah umur kelas tiga menggema di halaman utama sebuah SMA, tepatnya Sekolah Menengan Atas 1 SukaSari. Sekolah Menengan Atas yang sering disebut orang dengan Sekolah Menengan Atas pinggiran sebab letaknya di pinggiran kota dan bersahabat dengan pegunungan. Sekolah Menengan Atas bawah umur sisa, tidak berkelas menyerupai Sekolah Menengan Atas di kota-kota besar. Tahun ini mengatakan sebuah prestasi yang sebelumnya tak pernah terendus oleh pemerintah. Sebuah prestasi yang membanggakan semua. Berhasil lulus 100% mengalahkan Sekolah Menengan Atas unggulan.
Seruan kebahagian dan tangisan mewarnai hari ini, hari penentuan akan nasib mereka ke depan. Hari yang paling dinantikan oleh bawah umur kelas tiga Sekolah Menengan Atas dimanapun berada sebab hari ini hari yang paling menciptakan mereka panas masbodoh atas hasil simpulan yang di sanggup dari tiga tahun mencar ilmu di SMA.
Anak-anak IPA mendapatkan peringkat 4 besar, sedangkan bawah umur IPS masuk 2 besar. Sungguh prestasi yang menciptakan nama Sekolah Menengan Atas 1 SukaSari menjadi lebih baik dari sekedar Sekolah Menengan Atas pinggiran.
''Hei, atas keberhasilan kelas IPS3, gimana jikalau kita jalan-jalan ke pantai?'' Seorang cowok kurus menerobos lautan manusia, menghampiri sekelompok murid yang ia kenal baik.
''Oke, kita besok meluncur ke pantai!'' teriakan antusias digemakan oleh sebagian murid.
Pemuda kurus itu berjalan meninggalkan kerumunan, menghampiri dua sahabat baiknya yang semenjak tadi hanya terdiam. ''Sob, kamu besok ikut kan? Nggak ada kata nggak!'' cowok kurus itu menyenggol pundak cowok disampingnya dengan kepalan tangan.
Bukan menanggapi pernyataannya, cowok yang dimaksud malah melirik gadis yang semenjak tadi berada disampingnya.
''Ayolah, Cup! Nggak bakal asik jikalau bintang kelas kita nggak ikut.''
Ucup tak menyahut, bola mata melirik Delima, cewek yang dipacarinya semenjak masuk SMA. Merasa diperhatikan, gadis anggun itu menoleh, bukan roman cerah menyerupai biasa yang terlihat, melainkan kegelisahan.
''Ayolah, Del.'' pinta cowok kurus memelas.
Delima menghela nafas berat, ''Baiklah. Kita akan ikut, Jang.''
Pemuda yang disebut Ujang memekik senang. ''Besok ngumpul ditempat biasa.'' serunya sebelum menghilang dalam kerumunan manusia.
Ucup menatap lekat sosok gadis disampingnya. Jujur, kekasih mana yang tak khawatir melihat kekasihnya bersikap tak menyerupai biasa.
''Del?!'' merasa namanya terucap sang gadis menoleh.
''Katakanlah.''
***
Hitam. Hanya warna itulah yang tertangkap indra pengelihatan Delima. Ia terus berjalan tanpa arah, berjalan mencari titik putih di depan sana.
''Ya Tuhan, saya berada dimana?'' Delima terus berjalan tanpa arah.
Ia menyerupai menelusuri lorong tanpa ujung.
''Delima!'' sebuah bunyi menggema di tengah kegelapan.
''Kemarilah, Del, saya menanti kedatanganmu.'' bunyi merdu itu menguasai gendang telinganya, seakan terus berputar dalam otaknya.
''Hentikan!'' pekik Delima. Suara perempuan itu menyerupai ribuan jarum yang menghujam isi kepalanya.
''Kemarilah, Delima.'' bunyi perempuan itu kembali terdengar.
Delima terduduk di tanah, kedua tangannya menutup erat kedua telingannya semoga tak lagi mendengar bunyi menyakitkan itu lagi.
''Hahahaha...'' tawa perempuan itu menggema dalam kegelapan.
''Hentikan! Kumohon... hentikan!'' tangis Delima. Gadis anggun itu terus bersimpuh dalam ketakutannya. ''Tuhan, tolong aku.'' pekiknya dalam hati.
''Delima.'' Suara lain memanggil. Delima mendongak ke atas. Secepatnya ia berdiri dan menerjang dalam pelukan sosok di depannya.
''Hiks... Cup, saya takut.'' Gadis anggun itu mendekap erat kekasihnya.
''Tenanglah, Del, saya ada disini...'' Delima sedikit hening mendengar penuturan kekasihnya. Tapi tubuhnya sontak kaget mencicipi sebuah kecupan di lehernya, apalagi daging tak bertulang itu menelusuri lekuk lehernya.
''Cup!'' bunyi itu menggema dari kerongkongan Delima.
''Kau suka?'' sebuah bisikan menciptakan Delima mengangguk setuju.
Tapi tunggu, bunyi ini bukan bunyi kekasihnya.
Dengan sekuat tenaga, Delima mendorong sosok itu menjauh. ''Siapa kau?'' tudingnya ketakutan.
Sosok itu tertawa menakutkan, matanya mendelik bersamanya daging itu yang luber meninggalkan seonggok tulang manusia.
Tangan Delima meraba lehernya dengan gemetar. ''Aaaaa...!'' Delima memekik histeris mendapati tangannya yang penuh darah dan belatung. Teriakan ketakutan yang menciptakan sosok dalam kegelapan menyeringai penuh kemenangan.
***
Ucup mendekap erat tubuh sang kekasih yang sedikit bergetar. Dikecupnya usang puncak rambut sang gadis. Matanya terpejam mencicipi aroma memabukkan dari gadisnya.
''Aku selalu bersamamu, Del. Itu hanya mimpi, bunga tidur.'' Pemuda itu kembali bersuara sesudah sekian usang mendengar dongeng sang gadis.
Delima mendongak, tatapannya eksklusif terkunci oleh mata hitam di depannya. Perlahan kepala itu mendekatinya, membawanya ke dalam sebuah ciuman hangat.
***
Sang mentari sudah menggantung tinggi di langit ketika sepasang mata itu membuka dengan terpaksa. Iris bening itu masih terlihat mengantuk. Sosok itu berlahan berdiri dari selimutnya. Berkali-kali kepalan tangannya dipakai untuk mengucek-ngucek matanya. Kepalanya menoleh ke arah kamar mandi, senyum mengembang di sudut bibirnya.
''Selamat pagi, Cup... hoamm!'' sang gadis menguap lebar menciptakan sosok Ucup terkikik pelan. "Jadi semalam kamu menemaniku hingga menginap disini, Cup?" seringai Delima.
Pemuda yang dimaksud menggerutu sebal. "Hai, Del, jangan menatapku menyerupai itu." Ucup meraih kaosnya dan eksklusif mengenakannya. "Cepatlah mandi, hari ini bukannya kita akad mau pergi ke pantai."
"Iya-iya, ceriwis amat sih." Dengan terpaksa Delima beranjak ke kamar mandi. Gadis itu menoleh ke belakang dengan seringainya.
"Apa lagi, Del?"
"Cup, mandiin." rajuknya kemudian.
Semburat merah eksklusif menjelajahi wajah Ucup, secepatnya cowok itu mengalihkan pandangannya. Huft, kekasihnya ini memang suka sekali menggoda, dan ujung-ujungnya ia selalu menahan nafsunya.
***
Sang mentari mulai terik dikala kaki-kaki liar itu menginjak lembutnya pasir pantai. Gemuruh ombak seakan lantunan indah dari Sang pencipta.
"Ayo kita berenang!" seru Puspa berlari menerjang gulungan ombak yang tengah beriak. Tak usang kemudian pantai yang tidak mengecewakan sepi itu riuh dengan teriakan-teriakan serta tawa kebahagiaan.
Disudut lain terlihat sosok dengan rambut panjang yang tengah berkibar diterpa angin laut. Senyumnya mengembang menatap teman-temannya yang tengah asik bersuka cita. Gadis itu mendongak dengan senyum lebih mengembang ketika mendapati sang kekasih mendekap tubuhnya dari belakang.
"Kenapa terdiam disini, sayang?" bisik sang kekasih.
"Terus ngapain kamu sendiri disini, Cup?" tanyanya balik.
"Hanya ingin menemanimu." bisik Ucup semakin mendekap tubuh sang kekasih.
Cinta tak perlu sebuah ungkapan, rayuan maupun omongan. Karena mereka tahu dalam diri mereka masing-masing menyimpan sebuah cinta yang tulus.
''Delima.''
''Hmmm...?'' Delima menengadah, kembali memandang wajah masbodoh sang kekasih.
Ucup berdiri dari duduknya, ''Mau pergi ke suatu kawasan nggak?'' ajaknya kemudian.
Sang gadis tersenyum. ''Tentu.'' Delima merapikan roknya sebelum melangkah mengikuti kemana sang kekasih membawanya.
Ucup memarkirkan motor merahnya di halaman salah satu rumah penduduk. Setelah itu tangannya menggapai tangan Delima dan membawanya ke sebuah tempat.
***
Semilir angin pegunungan menerpa wajah sepasang kekasih ketika mereka tengah melewati sungai kecil yang airnya jernih. Pandangan mata bundar Delima melirik kesana-kemari mengisi memorinya dengan jepretan-jepretan yang tertangkap indra pengelihatannya. Tempat itu memang tak terlalu indah tapi bisa menciptakan sang gadis menarik bibirnya ke atas, sebuah senyum tanda ia menyukai kawasan ini.
Delima mempercepat langkahnya melewati sungai jernih itu, matanya menatap kagum pandangan di depannya. Bebatuan kokoh itu menjulang tinggi ke atas, di tengah-tengah terdapat sebuah lorong sehingga watu besar itu terlihat menyerupai sebuah tubuh, dimana pinggang itu begitu ramping. Entah bagaimana caranya ke atas sana, mengingat Delima tidak menemukan tangga atau sebuah lorong apapun.
''Ayo!'' Ucup menarik tangan sang kekasih kembali mengikuti langkahnya.
Untuk kedua kali Delima menemukan sungai yang begitu jernih, bebatuan-bebatuan menghambat laju sang air. Dia menghembuskan nafas dalam-dalam, mengisi paru-parunya dengan udara pegunungan yang begitu sejuk dan segar.
''Maaf jikalau tempatnya jelek, Del.'' bisik Ucup. Keduanya tengah duduk di sebuah watu besar di tengah-tengah pedoman sungai.
''Tidak buruk kok. Sepi, cocok buat pacaran...hihihi...'' sahut Delima.
Ucup mendengus sebal. Kekasihnya ini memang paling hobi menjahilinya.
Sekilas tatapan cowok itu melirik ke balik kaos oblong Delima. Menelan ludah susah payah ketika sepasang tangan yang semenjak tadi melingkar di pinggang Delima bergerak semakin ke atas, ke atas, menelusuri setiap lekuk tubuh dalam pencariannya menjangkau lembah tujuannya.
''Eh...'' Delima sontak mendongak ke atas ketika dirasakan sepasang tangan meremas kedua buah dadanya.
Keduanya terdiam. Rona merah menguasai keduanya. Dengan segera Delima mengalihkan pandangannya, entah kenapa ia menjadi deg-degan bertatapan dengan mata sang kekasih.
Delima masih mencicipi tangan kokoh kekasihnya menangkup kedua payudaranya yang membusung. Entahlah, tapi ia menyukainya. Perlahan tangan Delima terangkat menangkup tangan Ucup dari luar kaos oblongnya. Jemari-jemarinya menekan lebih semoga tangan Ucup menyentuh miliknya lebih keras. Dia menyukai menyerupai ini, dimana tangan Ucup kini aktif membuai serpihan sensitif tubuhnya.
Ucup menyeringai mendapati reaksi positif Delima. Setiap pria niscaya tak akan menyia-nyiakan kesempatan langka menyerupai ini. Bra itu kini telah tersingkirkan ke atas. Dengan sedikit bernafsu Ucup meremas kedua bukit kenyal itu. Inilah pengalaman pertamanya, meskipun ia telah usang menjadi kekasih Delima, ia tak pernah memanfaatkan Delima untuk memuaskan nafsunya. Ia menyayangi Delima bukan atas nafsu tapi ia memang benar-benar mencintainya setulus hatinya. Tapi hari ini semua logikanya seakan lenyap, nafsu telah menguasai pikirannya.
Bibir mereka kembali berpagutan dengan liarnya, air liur berkali-kali menetes menunjukan betapa sengit pertarungan pengecap itu.
Delima melepas pagutannya dari bibir Ucup. Kepalanya pegal terus-terusan mendongak ke atas. Secepatnya ia menyingkirkan kedua tangan Ucup yang masih bertengger di kedua bukitnya, menciptakan cowok itu mengernyit kesal.
Tanpa diduga Ucup, Delima berbalik tubuh menghadapnya. Sebelum duduk di pangkuan Ucup, Delima mengangkat kaosnya ke atas. Kedua payudaranya pun kelihatan menggantung indah di dadanya. Tangan Ucup terulur untuk menarik salah satu putingnya.
''Auw...sakit tau!'' sengit Delima memposisikan duduknya di pangkuan Ucup.
Pemuda itu hanya terkikik kecil melihat tingkah kekasihnya yang menurutnya lucu.
Delima menarik kaos oblongnya hingga lepas, sesak juga ketika kaos itu berkumpul di dadanya. Mata bulatnya melirik ke arah payudara yang menggantung di dadanya. Diremasnya kecil bukit indah itu. Ehmm... Rasanya tidak menyerupai ketika Ucup yang melakukannya. Bahkan ketika jemarinya menarik putingnya, rasanya biasa juga, tak ada sensasi-sensasi menggelikan menyerupai tadi.
''Biarkan saya yang melakukannya, Del.'' bisik Ucup.
Delima hanya terdiam ketika Ucup membungkukkan badannya, menangkap dengan bibirnya puting mungil di bukit kanannya. Ucup Menggelitik dengan lidahnya sebelum mengecap lebih keras, berharap sesuatu keluar dari dalamnya, menciptakan gadis anggun itu memekik kaget.
''Kyaa! Hentikan, Cup! Geli...!''
Tangan Ucup menangkup erat kedua bukit bundar di depannya, ia tak mengindahkan omelan-omelan Delima yang semakin keras manakala ia mulai meremas-remasnya lembut. Delima hanya bisa menggeliat nikmat di pangkuan kekasihnya mendapatkan perlakuan pria itu.
Ucup mencicipi serpihan selangkangannya terasa sesak. Dihentikan aksinya pada bukit kembar indah itu, sekedar mengecek apakah kemaluaannya memang sudah benar-benar tegak apa belum. Dia melepas resleting celananya, melorotkan celana dalamnya sedikit. Kemaluan itu eksklusif menyeruak keluar, menjulang tinggi bagaikan tonggak kayu besar.
Otot-otot mengukir di setiap inci permukaannya, menambah kesan jantan di mata Delima. Tak dipungkiri, ia grogi melihat kemaluan kekasihnya, padahal jujur, ia pernah nonton blue film. Tapi tetap saja yang orisinil lebih membuatnya serba grogi dari pada cuma menonton dari balik layar.
Lamunannya buyar seketika ia mencicipi tubuhnya terangkat ke atas. Ucup menggendongnya.
''Kita lakukan di gua itu, Del.''
Delima semakin grogi dan deg-degan ketika mereka memasuki sebuah lorong gelap. Mulut goa itu mengadap eksklusif ke arah jurang yang tak terlalu dalam. Pantas saja Delima tak menyadari keberadaan goa ini.
Dingin. Ketika kulit Delima bersentuhan dengan permukaan watu dimana Ucup membaringkan tubuhnya. Delima sadar akan apa yang tengah mereka lakukan, tapi logikanya menyerupai tertutup kabut hitam. Yang ada hanya bisikan-bisikan setan untuk menikmati hal yang belum pernah ia lakukan sebelumnya.
Kelopak bening Delima tak berkedip sedetik pun melihat sang kekasih tengah melucuti celananya. Tatapan Delima lurus ke arah selangkangan Ucup yang sudah berdiri menantang.
Delima berdiri dari tidurnya, sedikit merangkak mendekat ke arah Ucup. Digenggamnya kemaluan itu, reflek jari-jari mungilnya memberi pijatan-pijatan kecil. Delima mencicipi betapa kokohnya kemaluan itu di tangannya. Matanya menyipit, perlahan tangannya terulur menangkap buah zakar milik sang kekasih.
Ucup memandang ke arah kekasihnya senang. Senang sebab belaian tangan milik sang kekasih. Sesekali matanya terpejam menunjukan ia sangat menikmati kegiataan ini.
Delima mendongak ke atas ketika sebuah jari mengangkat dagunya, membawa mereka pada sebuah ciuman intim.
''Nggg... Empphhh!'' Delima hanya bisa mendesah ketika Ucup kembali menguasai permainan mereka.
Gadis itu membiarkan celananya lolos meluncur ke bawah. Tak usang kemudian ia melirik ke arah Ucup yang tengah berbaring menggantikannya. Senyum tersungging di bibir Delima ketika ia melangkah menghampiri sang kekasih.
''Hmmm... Del!'' desah Ucup ketika tangan-tangan lentik Delima mempermainkan kemaluannya, sedikit mengocok dan mengusap-usap disana.
''Kenapa, Cup?''
''Kau...'' Ucup menangkap bibir tipis Delima dan melumatnya rakus sebagai pembalasan.
''U-Ucupp!'' Delima memekik. Ucup menyeringai senang melihat Delima yang tengah menggerutu sebal.
Tanpa menunggu lagi, Delima menggenggam kemaluan sang kekasih dan perlahan duduk di atasnya. Gadis itu menyernyit perih ketika dirasakan kemaluan Ucup terdorong masuk menyakitkan. Delima semakin menekan pinggulnya, tak mau menunggu. Satu hentakan dari Ucup sukses menciptakan tubuh mereka bersatu. Tak terelakan jeritan Delima menggema di goa itu bersamaan dengan ambruknya tubuh Delima dalam pelukan Ucup.
Dinding kemaluan Delima terasa hangat dan berdenyut-denyut kencang, Ucup hingga tidak bisa merangkai kata untuk menjelaskan bagaimana nikmatnya ketika kemaluannya karam dilorong sempit milik kekasihnya itu. Satu kesimpulan: nikmat!
Delima menitikkan air mata, ia menangis. Tak ada isakan diantara air mata itu, yang ada hanya kenikmatan ketika mendapatkan rangsangan di bawah sana. Ucup menggerakkan pinggulnya, menciptakan pinggul Delima naik turun di pangkuannya.
Delima berdiri dari posisinya. Sepasang ibu jari menghapus air mata yang tengah menetes dari mata emerald miliknya. Kekasihnya tengah tersenyum, senyum yang entah kenapa menciptakan Delima salah tingkat.
''Kau tak apa-apakan, Del?'' tanya Ucup khawatir.
''Hmm...'' Delima menarik tubuhnya ke atas, ia sanggup melihat darah mengalir dari lubang kemaluannya. Tapi tanpa rasa menyesal, Delima menghujamkan tubuhnya kembali dan menggerakkannya naik turun.
''Ahhhhhhh... Aaahhhhhhh...'' dengan liarnya gadis anggun itu menggeliat di pangkuan kekasihnya.
Ucup mengimbanginya dengan terus mendorong penisnya ke dalam kemaluan Delima. Satu tarikan nafas, satu dorong mehujam kembali lorong berair sang kekasih.
Dunia seakan milik mereka berdua.
Delima membuka matanya.
Gelap.
Ada apa ini, kenapa disekitarnya begitu gelap. Padahal tadi kawasan dimana mereka berada masih tersoroti sinar matahari. Tapi yang ada kini hanya kegelapan dan kehampaan. Ia menatap sang kekasih yang masih asyik menggenjot kemaluannya. Ucup kelihatan murung. Kenapa?
Tidak. Ini dihentikan terjadi. Delima menggapai tubuh Ucup yang menindihnya, tapi... kenapa ia tak bisa menyentuh tubuh itu. Seakan transparan. Tak terasa air mata mengalir deras dari sudut matanya.
''Ucup!'' teriak Delima ketika sosok kekasihnya seakan hilang di telan kegelapan. ''Cup, dimana kau? Kumohon, jangan tinggalkan saya sendirian.'' tangis Delima.
Tak ada balasan, yang ada hanya kegelapan yang membelenggunya.
Delima menyipitkan matanya ketika seberkas cahaya tertangkap indra penglihatannya.
''Delima,''
''...''
''Selamat tiba di tempatku, Del.''
Dan semuanya kini gelap.
***
Headline di sebuah koran pagi.
Sepasang anak muda ditemukan meninggal dalam keadaan tubuh yang tak bisa dipisahkan. Sampai informasi ini diturunkan pihak rumah sakit belum bisa menemukan cara untuk melepas kemaluan mereka yang tetap menyatu.
Comments
Post a Comment